
Korea Bangun HTI untuk Energi Biomasa Kayu
Pebisnis Republik Korea rupanya telah benar-benar jatuh hati dengan bisnis kehutanan di Indonesia. Terbukti, investasi terus dikucurkan ke sektor ini. Terakhir, para pemilik modal asal negeri ginseng tersebut siap membangun industri pelet kayu dan memperluas investasi hutan tanaman yang sudah ada.
Pertengahan tahun 2006 lalu, para pebisnis raksasa Korea memang menegaskan minatnya untuk menanam modal di sektor kehutanan Indonesia. Sebut saja, Eagon Industrial, Elips Timber, Pohang Steelers Cooperation (Posco), Samsung dan Federasi Koperasi Kehutanan Nasional Korea rela antre untuk berinvestasi.
Rencana investasi yang diikat kesepakatan antara pemerintah Republik Indonesia dan Republik Korea itu memang tak semulus yang diperkirakan. Penyebabnya rimba birokrasi di Indonesia yang lebih lebat ketimbang rimba raya kehutanan yang sesungguhnya. Namun, hal itu tak membuat para pemilik modal Korea mundur.
Kini investasi lanjutan pun siap dikucurkan. Menteri Kehutanan MS Kaban mengungkapkan investor asal Korea siap menanam investasi tambahan untuk pembangunan hutan tanaman seluas 200.00 hektare. “Ini menambah luas investasi hutan tanaman oleh investor Korea,” kata Kaban mengungkapkan hasil kunjungannya ke Korea dan Jepang, awal Juni.
Kerjasama kehutanan Indonesia-Korea yang ditandatangani di Seoul, 2006 menyepakati pembangunan hutan tanaman dan aforestasi/reforestasi Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism) seluas 500.000 hektare. Perkembangannya sejauh ini, yang sudah ada tiga perusahaan yang mendapat izin definitif dan satu perusahaan yang mendapat izin prinsip untuk pembangunan hutan tanaman dengan luas mencapai 141.225 ha. Sementara delapan perusahaan lainnya sedang dalam proses mendapatkan izin dengan luas 357.817 ha. Sedangkan untuk pembangunan hutan dengan kerangka A/R CDM ada satu perusahaan dengan luas 13.000 hektare. Total jenderal luas hutan yang yang akan ditanam terkait kerjasama tersebut adalah 512.042 ha.
Energi Biomasa
Sementara investasi tambahan yang akan dikucurkan investor Korea adalah untuk keperluan industri energi berbasis biomasa kayu. Dirjen Bina Produksi Kehutanan Dephut, Hadi Daryanto menjelaskan, pada Forum Kehutanan Indonesia-Korea yang Kedua, 6 Maret 2009, kedua negara telah menandatangani kesepakatan untuk meningkatkan kerjasama pembangunan industri berbasis energi biomasa kayu. Menindaklanjuti kesepakatan tersebut, akan dibangun industri pembuatan pelet kayu yang akan menjadi subtitusi batubara sebagai bahan bakar. “Korea ingin ‘pertumbuhan hijau’ di negaranya. Jadi mereka ingin mengganti bahan bakar yang digunakan menjadi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan,” katanya.
Langkah pemerintah Korea yang menginginkan pertumbuhan hijau juga tak lepas dari kesadaran negara tersebut dalam meredam pemanasan global dan mencegah perubahan iklim. Saat ini Korea memanfaatkan 8 juta ton batubara untuk kepentingan energi. Jumlah tersebut, oleh pemerintah Korea ingin dikurangi setidaknya 5% dan disubtitusi dari bahan bakar yang ramah lingkungan dalam hal ini pelet kayu. “Apalagi pelet kayu lebih ringkas karena terbuat dari kayu yang dipadatkan sehingga mudah dalam proses pengapalan,” kata Hadi.
Industri pelet kayu yang saat ini sudah berdiri di Indonesia ada di Wonosobo, Jawa Tengah, dengan bendera PT Solar Park Indonesia berkapasitas 10 ton/jam. Industri yang juga milik investor Korea itu memanfaatkan limbah kayu hasil industri kayu gergajian Sengon.
Menurut Hadi, industri pelet kayu tidak bisa terus menerus mengandalkan limbah kayu sebagai bahan bakunya. Apalagi, kini limbah kayu sengon semakin sulit dicari seiring dengan tren ekspansi industri perkayuan yang memanfaatkan kayu sengon sebagai bahan baku pembuatan kayu lapis. “Industri kayu lapis relatif zero waste karena seluruh kayunya termanfaatkan,” kata Hadi.
Latar belakang itulah yang mendorong investor Korea untuk menambah luasan investasi hutan tanaman. Hutan tanaman yang dibangun dipersiapkan bisa memasok bahan baku bagi industri pelet kayu secara berkelanjutan. “Jenis yang ditanam bisa Sengon, Akasia atau jenis-jenis lain,” kata Hadi.
Dari 200.000 ha hutan tanaman yang dibangun seluas 20.000 ha merupakan investasi pemerintah Korea sebagai proyek percontohan sementara 180.000 ha sisanya merupakan investasi yang akan dilakukan oleh swasta murni.
Menurut Hadi, pemerintah Indonesia sudah mempersiapkan sejumlah lokasi untuk keperluan investasi tersebut diantara di Katingan, Kalimanatan Tengah. ‘Tapi tak menutup juga di lokasi-lokasi lain,” katanya.
Hadi mengungkapkan, industri pelet kayu memang baru bagi Indonesia dan Korea. Namun di sejumlah negara Amerika Utara dan Skandinavia, industri pelet kayu sudah berkembang sejak lama dan menjadi salah satu penopang keperluan energi.
Sementara itu Presiden Direktur Solar Park, Park See Woo yang dihubungi melalui telefon menjelaskan, pelet kayu terbukti mampu bersaing dengan batu bara sebagai bahan bakar. “Kalori yang dihasilkan pelet kayu mencapai 4.880 kilo kalori/kilogram. Setara dengan batubara,” kata dia.
Park menjelaskan, industri ini juga punya masa depan cerah karena harganya yang menarik mencapai 200-300 dolar AS/ton. “Investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan pabrik sekitar 6 juta dolar AS,” ujar Park. Sugiharto
Dibutuhkan sorgum kering segera hub gatot 081336039460
BalasHapusIngin tahu lebih banyak pengolahan Pelet kayu, dan pemasarannya. Apakah akan baik hasilnya bila menggunakan serbuk kayu pinus ? terima kasih.
BalasHapusyg butuh wood pellet utk di bandung hub saya di 081322121744
BalasHapus