Menurut Manurung, setiap tahun terdapat sekitar 160 miliar ton biomassa dari areal pertanian dan 80 miliar ton dari areal perhutanan. Sebagai contoh, ampas tebu, sekam padi, batang dan tongkol jagung, pelepah dan tandan sawit, serta beragam limbah lainnya. Padahal jika diolah, 240 miliar ton biomassa itu setara dengan 60 ton BBM.
Di industri teh, limbah biomassa yang diproduksi setiap tahun mencapai 5,8 miliar ton atau setara dengan 2,32 ton BBM. Sementara tahun ini diperkirakan ada sekitar 17,7 juta ton biomassa yang menjadi limbah penggilingan padi.
Angka tersebut setara dengan 7,07 juta ton BBM. Jika teknologi pengolahan biomassa itu dikembangkan, bisa dihitung betapa besarnya penghematan yang bisa dilakukan. Sebagai contoh, pengeringan 124.500 ton teh membutuhkan biaya Rp 177 miliar.
Beberapa jenis bioenergi yang bisa dihasilkan dari biomassa pertanian antara lain bio-oil, biogas, briket arang, ataupun pembangkit listrik berbahan bakar sekam, papar Handaka. Bio-oil merupakan bahan bakar yang bisa digunakan untuk sektor transportasi. Salah satu jenis bio-oil yang mulai banyak digunakan di negara-negara maju adalah biodiesel.
Bi-oil dihasilkan melalui proses pemanasan biomassa pada suhu 450-600 derajat Celsius secara cepat. Proses yang disebut dengan pirolisa itu akan menghasilkan gas, cair, dan padatan dalam bentuk arang. Bio-oil juga dihasilkan dengan proses pirolisa pada sekam yang selama ini terbuang.
Sementara itu biogas diproduksi dari limbah manusia, hewan atau bahan pertanian lain. Briket arang bisa dibuat dari limbah kayu, tempurung kelapa, sisa bahan kelapa sawit, sekam, dan limbah pertanian lainnya.
Pasokan energi juga bisa didapat dari sumber terbarukan nonbio-energi. Selama ini cahaya matahari yang memancar hampir sepanjang tahun, energi angin, energi ombak belum banyak dimanfaatkan untuk pengolahan produk pertanian. Padahal hanya dengan teknologi sederhana namun tepat guna sumber energi tersebut bisa memberi banyak manfaat.
Sebagai contoh teknologi pengering terowongan berganda yang dikembangkan oleh dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir Rudy Wahyudi. Rudy memanfaatkan energi matahari yang dipadukan dengan energi biomassa untuk mengeringkan produk pertanian dan perikanan.
Hasilnya selain tidak memerlukan BBM, kualitas produk yang dikeringkan pun jauh lebih baik. Lama pengeringan pun bisa dipercepat menjadi 4-6 kali lebih cepat.
Pengembangan teknologi tepat guna yang memanfaatkan bio-energi dan energi terbarukan lainnya memberi banyak harapan bagi petani. Selain mengatasi persoalan limbah pertanian dengan konsep zero waste, pasokan energi untuk pengolahan pun lebih mudah dengan biaya jauh lebih murah. Bukan hanya itu penggunaan BBM pun menjadi jauh berkurang bahkan bisa ditiadakan yang berarti juga mengurangi emisi pencemar.
Yang diperlukan saat ini adalah keinginan kuat dari pemerintah untuk mewujudkannya. Tanpa dukungan politik yang jelas, pengembangan teknologi seperti apapun sangat sulit untuk diterapkan.
Jadi, yang harus dibenahi adalah visi pemerintah tentang paradigma pengembangan teknologi di negeri yang kaya sumber daya alam ini.
Minggu, 13 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar