
July 14, 2009
Turunnya sediaan minyak bumi memberi stimulasi signifikan bagi proses pencarian sediaan energi alternatif secara global. Fenomena ini juga mendorong banyak negara menetapkan target tentang seberapa besar energi terbarukan menjadi bagian dari geliat pembangunannya.
Sebagai teladan, negara-negara Eropa menetapkan bahwa pada tahun 2020, 10% dari bahan bakar untuk transportasi akan berasal dari biofuel (bahan bakar nabati), sedangkan Amerika Serikat mempunyai target untuk menurunkan konsumsi minyak bumi sebesar 30% dan menggantinya dengan biofuel cair berbasis biomasa.
Target-target ini memberi gambaran meningkatnya proporsi penggunaan energi terbarukan yang berasal dari biofuel. Awalnya, transisi dari minyak bumi (energi/bahan bakar fosil) ke biofuel telah dipromosikan sebagai langkah untuk menghilangkan masalah-masalah terkait minimnya sediaan minyak bumi, gas rumah kaca, dan perubahan iklim. Namun demikian, baru-baru ini, berbagai negara semakin berhati-hati dalam melaksanakan pencapaian tujuan-tujuan awal tersebut. Mereka mulai mempertanyakan kaitan antara tatalaksana proses produksi biofuel dengan potensi dampak buruk yand ditimbulkannya.
Kemudian timbul pertanyaan, apa yang salah dan mengapa target-target pengalihan dari minyak bumi ke minyak nabati dipertanyakan sebelum kemungkinan potensinya diuji dengan baik? Apakah karena ada kesalahan dalam penentuan bahan bakunya? Atau kesalahan terletak pada strategi yang kurang tepat?
Evaluasi ulang secara kritis atas manfaat dan biaya pengembangan energi terbarukan – seperti dijelaskan di atas – didorong oleh fakta digunakannya bahan pangan sebagai bahan baku energi dan akibat sosial dan lingkungan yang ditimbulkan dari pilihan tersebut.
Pemilihan bahan pangan untuk energi ini telah melahirkan situasi yang kompleks, ditambah kenyataan bahwa untuk memproduksi bahan baku energi ini beberapa pemerintah di negara berkembang memberi peluang para pengusaha untuk mengkonversi hutan alam dan mengubahnya menjadi kebun energi berbasis pertanian. Indonesia mempunyai teladan yang terang benderang mengenai ini, berjuta hektar hutan telah dialokasikan dan dibuka untuk penanaman kelapa sawit bagi kepentingan makanan dan energi. Pemerintah daerah dan institusi terkait selalu menghadapi situasi sulit antara mengembangkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan atau mengubahnya menjadi perkebunan sawit.
Tema-tema terkait biofuel sepertinya lebih mengemuka dalam diskusi tentang keamanan energi dan keamanan pangan dibanding dipromosikan sebagai alternatif yang lebih baik dalam program penyelamatan lingkungan. Banyak pihak di tanah air mengasumsikan bahwa semua biofuel berasal dari sawit dan bahan pangan, sehingga ramai-ramai pula menolaknya. Padahal biofuel dapat dijadikan sebagai alternatif energi yang murah dan secara bersamaan dapat menyelamatkan lingkungan.
Situasi ini telah menghambat proses pencarian dan promosi biofuel yang menyediakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan signifikan bagi para pendukung, aktifis, dan praktisi biofuel, bahkan pada gilirannya masyarakat dan negara secara umum.
Beberapa negara, terutama anggota Uni Eropa, telah menimbang ulang tentang seberapa cepat sebaiknya mereka menggunakan biofuel sebagai pengganti minyak bumi. Penyebabnya? Karena sejuah ini belum tersedia informasi yang dapat menjawab tentang persoalan sosial dan lingkungan akibat dari pengembangan biofuel secara global. Negara-negara tersebut lantas meminta langkah-langkah verifikasi untuk memastikan bahwa biofuel yang mereka gunakan diproduksi secara berkelanjutan. Secara khusus, perhatian utama mereka difokuskan pada langkah-langkah:
* Seberapa besar penurunan emisi karbon dimungkinkan dari proses produksi etanol berbahan baku tanaman pangan (pertanian)
* Besaran energi yang dibutuhkan dalam proses menanam dan memanen tanaman dibanding dengan jumlah energi terbarukan yang dihasilkan
* Sejauh mana perubahan tata guna lahan – terkait tingkat produksi yang cukup untuk menghasilkan makanan dan energi (yang sebelumnya berupa lahan hutan) – dapat ditolerir tanpa menambah persoalan erosi dan polusi air.
* Secara global, seberapa tinggi harga makanan yang dapat ditolerir ketika bahan pangan tersebut juga digunakan untuk biofuel?, dan
* Jenis tanaman pangan apa saja yang akan hilang ketika para petani mengubah jenis tanamannya menjadi tanaman yang cocok untuk energi? Sejauh ini, penggunaan tanaman pangan untuk energi telah menyebabkan kekurangan pangan sekaligus menyebabkan harganya melambung tinggi. Pengaruh signifikan dari penggunaan pangan untuk energi di pasar internasional adalah tidak amannya sediaan pangan di tingkat lokal dan regional. Laporan Bank Dunia, yang diterbitkan akhir-akhir ini, menyebutkan bahwa tiga perempat dari total naiknya harga pangan di dunia disebabkan oleh penggunaan bahan pangan bagi produksi biofuel
Jika biofuel tetap dipertahankan sebagai bagian dari solusi global dalam proses penyediaan energi, terdapat kebutuhan untuk mengkaji ulang proses penetapan fokus perhatian dalam pengembangnya. Programnya perlu dilaksanakan secara lebih efektif untuk meningkatkan kesejahteraan serta mempertahankan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi baik di tingkat lokal maupun global.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah memperluas material/bahan baku yang dapat digunakan untuk memproduksi energi terbarukan. Jika proses pencarian bahan baku ini hanya difokuskan pada tanaman pertanian, akan membuat kita lalai pada fakta bahwa semua tipe biomasa dapat digunakan sebagai bahan baku biofuel. Selain itu, memfokuskan diri pada jenis bahan baku tertentu akan membuat pilihan kita terbatas dan kurang dapat mencukupi kebutuhan yang ada. Situasi ini sebetulnya mudah diterima dan dicerna. Sebagai teladan, jika seluruh produksi jagung dan kedelai di Amerika Serikat dialihkan dari rantai makanan dan dibaktikan untuk memproduksi biofuel, hasilnya hanya akan menggantikan kebutuhan bensin sebesar 12% dan minyak solar sebesar 6% dari total kebutuhan.
Jelas terlihat bahwa memfokuskan diri pada penggunaan tanaman pertanian untuk memproduksi biofuel – seperti teladan di atas – sangatlah riskan, kita tidak akan dapat mencukupi kebutuhan energi seperti yang sekarang ini dipenuhi oleh minyak bumi. Dengan semakin naiknya kebutuhan bensin, solar, dan bahan bakar lainnya, skenario menggunakan bahan makanan sebagai pilihan dalam memproduksi biofuel menjadi kurang bijaksana. Dan karena pengembangan industri semakin meningkat seiring dengan meningkatnya populasi di Indonesia, kebutuhan akan sediaan pangan meningkat pula.
Sayangnya, fokus perhatian saat ini menunjukan kecenderungan pemilihan satu jenis biomass untuk diterapkan di berbagai kawasan di dunia. Sebagai teladan, saat ini rumput-rumputan menjadi tanaman pilihan dalam memproduksi biofuel.
Terdapat beberapa alasan kenapa rumput menjadi pilihan: rumput tumbuh dengan pesat dan mampu memproduksi biomasa dua kali lipat pertahunnya dibanding dengan jenis tanaman lain, selain itu hanya sedikit material minyak bumi yang diperlukan untuk menumbuhkan sebagian besar spesies rumput-rumputan, sehingga pengurangan emisi karbonnya lebih tinggi dibanding tanaman lain.
Namun, terdapat beberapa masalah signifikan dalam penggunaan rumput sebagai bahan baku biofuel. Banyak spesies rumput dikenal sebagai invasive species dan kemampuan mereka berkembangan dengan cepat menunjukkan kedigjayaannya sebagai tanaman yang cepat beradaptasi. Situasi ini membahayakan tanaman asli lokal, yang dapat tersingkir oleh rumput tersebut di habitat aslinya. Di sisi lain, persoalan meningkatnya konversi hutan tidak dapat dihilangkan hanya karena pertumbuhan rumput ini cepat. Fakta lain menunjukkan bahwa tidak seluruh area di dunia ini cocok untuk menjadi media tanam bagi rumput.
Kunci utama dari penyelesaian masalah ini adalah bahwa seluruh sumber potensi biomass yang dikelola secara berkelanjutan sebaiknya dapat didayagunakan bagi pengembangan energi terbarukan. Pertimbangan utama lainnya terletak pada ketersediaan biomass tersebut secara lokal.
Kita selayaknya mengubah haluan; dari menggunakan tanaman pangan atau rumput ke arah penggunaan biomass dari hutan dan/atau tanaman perdu yang proses pemanenannya tidak perlu melalui konversi hutan dan tidak menggangu rantai makanan.
Meskipun penggunaan kayu (biomasa hutan) untuk energi meningkat, para pengambil keputusan masih ragu-ragu untuk mengusulkan penggunaan biomasa hutan dan perdu untuk memproduksi biofuel. Penyebab utamanya terletak pada kenyataan bahwa lebih dari setengah jumlah penduduk di dunia masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar. Selain itu, FAO pada tahun 1998 melaporkan bahwa sediaan kayu bakar sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan riil di negara-negara tropis.
Dengan tersedianya teknologi lanjutan, biomasa hutan dapat diubah menjadi bahan bakar cair. Efisiensi produksinya pun tinggi, produksi metanol dari biomasa hutan bervariasi dari 45-57%. Prosentasi ini jauh melampaui prosentasi yang dapat dicapai oleh energi yang dihasilkan dari kayu bakar. Situasi ini memberi sinyal bahwa kita dapat mengganti kayu bakar yang tidak efisien dengan sistem yang dapat menyediakan energi lebih tinggi per ton biomasa yang tersedia. Keamanan energi dapat terjamin ketika produksi energi diubah dari sistem yang tidak efisien (efisiensi ~10%) ke sistem yang dapat memberi keamanan dan ketersediaan energi bagi para pihak yang tergantung pada kayu bakar.
Sebagian literature yang tersaji sampai sejauh ini banyak menulis tentang aspek negatif dari biofuel. Argumentasi ini syah adanya sesuai dengan konteks yang dikondisikan dalam proses penulisannya. Secara global, biofuel (etanol, metanol, biodiesel, dll) memberi isyarat menjanjikan sebagai pengganti minyak bumi untuk sektor transportasi dan mengurangi terjadinya perubahan iklim. Karena bahan bakar fosil yang digunakan untuk transportasi bertanggungjawab atas hampir seperempat emisi karbon, mengganti bahan bakar fosil dengan biofuel menjadi pilihan yang masuk akal dan menarik untuk dicapai. Brazil adalah negara teladan yang sukses dalam mengubah tebu menjadi etanol yang dialokasikan bagi penunjang sektor transportasi. Mengadopsi pendekatan Brazil – dengan penyempurnaan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lokal negara masing-masing – dapat menjadi pilihan strategi ke depan.
Emisi karbon dari bahan bakar fosil meningkat lebih dari 20% di antara tahun 1990 dan 2004; dan proporsi bahan bakar fosil untuk menunjang kebutuhan energi campuran (energy mix) di dunia meningkat antara tahun 2000 dan 2004. Terdapat kebutuhan mendesak untuk menggeser pola produksi energi ke sebuah sistem yang dapat mengurangi emisi karbon dan secara bersamaan bertanggung jawab secara social.
Proses pencampuran bahan bakar fosil dengan bahan bakar nabati belum sepenuhnya sukses memberi tempat bagi penggunaan bahan bakar nabati secara signifikan, porsi bahan bakar nabatinya masih rendah. Di sisi lain, praktek ini juga belum berhasil dalam menurunkan emisi karbon dalam proses produksi maupun pemanfaatan biofuelnya.
Pengubahan tren – yang berbeda dengan praktek saat ini – dapat memberi rasa optimisme dalam pengembangan dan penggunaan biofuel, namun situasi ini hanya mungkin terjadi jika bahan bakunya berasal dari biomasa yang berdampak negatif kecil terhadap sosial dan lingkungan. Selain itu, perlu diingat bahwa biomass yang cocok di suatu daerah belum tentu sesuai ditanam di daerah lain. Setiap daerah mempunyai kekhasan tersendiri dalam proses penentuan jenis biomasa dan masalah-masalah yang terkait langsung dengannya.
Dalam makalah yang diterbitkan journal Renewable Energy, potensi peran biofuel (bio-methanol) yang diproduksi dari kayu dan dimaksudkan untuk mengurangi emisi karbon dipaparkan dan didemonstrasikan di Amerika Serikat bagian barat. Ketika bio-metanol digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil, total emisi karbon dapat dikurangi sebesar 22,8% sampai 80,7%. Penggunaan biometanol dari kayu (biomasa hutan) juga akan mengurangi potensi kebakaran hutan dan sekaligus dapat menjadi alternatif menarik sediaan listrik murah di pedesaan.
Akhir-akhir ini, pergolakan sosial terjadi di Meksiko karena jagung yang diproduksi di sana diekspor ke Amerika Serikat untuk kepentingan industri etanol. Hal ini terjadi karena harga jual jagung di Amerika Serikat lebih tinggi dibanding di Meksiko. Pada tahun 2007, Uni Eropa memutuskan untuk mengevaluasi kebijakan impor CPO (crude palm oil) dari Malaysia bagi karena dikhawatirkan terjadi kaitan yang erat antara peningkatan deforestasi dengan penyediaan bahan baku untuk industri biodiesel mereka. Keputusan ini juga didorong oleh perhatian atas sintasan (daya survival) masyarakat tempatan yang hidupnya tergantung kepada kepada sumber daya hutan secara langsung.
Dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam proses produksi biofuel akan menentukan peran bioful dalam sediaan energi di masa depan. Biofuel yang diproduksi dari bahan makanan penting atau menyebabkan kehancuran hutan kurang dapat diterima, baik oleh masyarakat tempatan maupun oleh masyarakat dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar