Minggu, 13 Desember 2009

Investasi Kehutanan Mengalir Bagai Air

Selain investasi dari Korea, sektor kehutanan juga banjir investasi dari dalam negeri. Hal ini justru terjadi ketika kondisi ekonomi global yang sedang mengkerut.

Dirjen Bina Produksi Kehutanan Hadi Daryanto mengungkapkan, pada periode Januari-Mei 2009, investasi industri kehutanan mencapai Rp1,2 triliun terdiri dari 14 industri baru dan 4 industri yang melakukan perluasan (Lihat Tabel). Investasi tersebut mampu membuka lapangan pekerjaan bagi 6.509 orang tenaga kerja.

Investasi yang ditanam melesat jauh jika dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Saat itu, investasi industri kehutanan hanya terdiri dari dua unit industri masing-masing untuk pembangunan industri baru dan perluas industri dengan nilai investasi Rp21,2 miliar.

Hadi menyatakan, langkah-langkah Dephut untuk melakukan relaksasi peraturan yang terkait investasi membuat investasi bisa mengalir cepat. “Tak ada lagi aturan yang menghambat masuknya investasi ke sektor kehutanan,” katanya.

Awal tahun ini, Dephut memang meluncurkan kebijakan relaksasi peraturan kehutanan untuk mendorong investasi dan meningkatkan daya saing. Beberapa ketentuan yang dinilai memperlambat laju bisnis dihilangkan seperti dihilangkannya kewajiban mengajukan izin perluasan industri sepanjang bahan bakunya dari hutan tanaman atau dihilangkannya kewajiban mengajukan izin untuk yang melakukan inovasi produk. Menurut hadi, izin baru yang ditanam sepanjang 2009 adalah izin yang memanfaatkan kayu hutan tanaman. Langkah ini juga untuk mendorong pemanfaatkan kayu dari hutan tanaman sehingga menjadi insentif bagi mereka yang melakukan penanaman. “Jika selama ini kayu dari hutan tanaman harganya rendah karena pasarnya sempit, maka dengan kebijakan ini kayu dari hutan tanaman bisa punya pasar yang lebih luas,” katanya.

Hadi mendorong investor untuk berlomba-lomba menanam investasinya meski saat ini sedang krisis. Kondisi krisis, katanya justru menjadi saat yang tepat untuk investasi sebab industri akan siap ketika perekonomian pulih. Sugiharto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar