Minggu, 13 Desember 2009

Bahan Bakar Alternatif Terbaru dari Jamur


Bahan Bakar Alternatif Terbaru dari Jamur

Jamur bisa menghasilkan hidrokarbon untuk pembuatan bahan bakar diesel

MONTANA - Tanaman yang ditumbuhi jamur menghasilkan campuran hidrokarbon yang bisa dijadikan bahan bakar diesel. Dengan hasil temuan terbaru, ilmuwan berharap mereka bisa membelah gen DNA jamur untuk dicangkokkan ke mikroorganisma lain dan memprosesnya menjadi bahan bakar.

Mahalnya harga bahan bakar gas dan minyak bumi membuat negara-negara maju dan juga berkembang berupaya mencari cara untuk mendapat sumber energi alternatif.

Pravda, Kamis (6/8/2009) melansir, bahan bakar alternatif berbasis ethanol yang dihasilkan dari jagung atau batang tebu, belum cukup mengatasi masalah ini. Pasalnya, untuk memproduksi satu liter ethanol membutuhkan hidrokarbon mentah dalam jumlah yang sama. Hidrokarbon adalah bahan kimia yang bisa menghasilkan bahan bakar diesel.

Masalah ini kemungkinan besar akan segera terpecahkan dengan bantuan jamur parasit mikroskopik yang hidup di dalam substansi kayu sebuah pohon dan memecah selulosa sehingga menghasilkan campuran hidrokarbon.

Selulosa kayu menjadi tempat terbaik bagi jamur penghasil hidrokarbon untuk menghasilkan bahan bakar. Namun untuk mengambilnya, sangat sulit karena harus memecah struktur selulosa kayu yang kuat. Diperlukan enzim khusus untuk proses tersebut.

Para peneliti studi ini mengatakan, bahan sedikit bahan bakar diesel yang dihasilkan jamur ini akan cukup memberikan tenaga bagi satu buah traktor untuk bekerja.

Oleh karenanya, mereka terus mengembangkan temuan ini. Menurut mereka, sangat mungkin mengadakan analisa genetik pada jamur dan mendeteksi gen serta mencangkoknya pada organisma lain untuk menghasilkan bahan bakar dari kayu berjamur. (srn)

Sabtu, 12 Desember 2009

hijau hutanku..hijau planetku...


Ayo Gabung Kampanye 350. Berani?!

Jumat, 23 Oktober 2009 | 15:49 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Menyemarakkan International Day of Climate Action dan Hari PBB yang dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia, The Climate Project (TCP) Indonesia mengajak semua lapisan masyarakat dalam Kampanye 350. Berani?! Kampanye ini bertujuan menurunkan kandungan CO2 di atmosfer pada titik 350.ppm, batas ambang maksimum yang aman bagi umat manusia.

"Keseluruhan upaya Kampanye 350. Berani?! merupakan ajakan untuk berpartisipasi atas keprihatinan kita sebagai komponen masyarakat, meneguhkan komitmen agar berperan aktif dan menjadikan individu diri kita sebagai bagian dari solusi krisis perubahan iklim," tegas Dr Amanda Katili-Niode, selaku Manager TCP-Indonesia dalam siaran persnya.

Kampanye 350. Berani?! dilakukan oleh para presenter TCP-Indonesia terpilih, 54 orang presenter, yang dilatih langsung oleh AlGore, pendiri The Climate Project dan penerima penghargaan Nobel. Relawan TCP-Indonesia secara sukarela dan serentak melakukan presentasi pada 23 Oktober 2009 di berbagai perguruan tinggi dan akademi, kemudian pada 24 Oktober 2009 melaksanakan rangkaian acara Klinik Gaya Hidup Hijau dan penandatanganan deklarasi menggunakan canting di atas kain batik di Teater Utan Kayu dan dilanjutkan di Darmawangsa Square The City Walk.

Gerakan Kampanye 350. Berani?! merupakan bagian dari berbagai kampanye yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan kesadaran dan komitmen menuju COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Denmark. Kunci pesan kampanye adalah 350. mengacu pada 350.ppm, yaitu tingkat konsentrasi CO2 di atmosfer yang aman bagi Bumi dan seisinya.

Menurut laporan Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC), panel antar-bangsa yang terdiri dari 1.300 lebih ilmuwan dan pakar ilmiah dunia pada Fourth Assessment Report, sebanyak 90 persen aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir telah membuat planet kita semakin panas. Utamanya sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida atau CO2 itu beranjak naik, mulai dari 280.ppm menjadi 379.ppm dalam 150 tahun, tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! Bahkan, tingkat karbon dioksida pada September lalu sudah mencapai 384,78.ppm.

Level 384,78.ppm yang tercatat sekarang diprediksikan akan terus meningkat sebanyak 2.ppm tiap tahunnya, tingkat setinggi itu sudah dinilai membahayakan karena bisa mengakibatkan perubahan iklim yang mengerikan karena akan berdampak pada penipisan ketahanan pangan, peningkatan intensitas badai, kelangkaan spesies. Khusus di negara kepulauan seperti Indonesia, hal itu berdampak besar pada kenaikan suhu permukaan air laut yang mengakibatkan kadar asam di laut meninggi (asidifikasi) dan mengganggu pola alami ekosistem lautan yang berdampak pada perubahan suhu global, arus, dan angin.

IPCC juga menyimpulkan bahwa 90 persen gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan manusia selama 50 tahun ini telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan GRK. Akan tetapi, pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, menyebabkan GRK di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.

BIOETANOL DARI SAGU



Pembuatan etanol dari pati dapat dilakukan secara kimia ataupun biologis. Akan tetapi jika berbicara “bioetanol” tentunya proses yang dipakai adalah secara biologis. dengan menggunakan enzim alfa dan glucoamilase yang mampu mengurai pati menjadi gula dan selanjutnya difermentasi lanjut menjadi bioetanol. Bioetanol dapat diperoleh dari serat dengan menggunakan enzim selulase. Efektivitas proses ini dipengaruhi oleh jenis enzim, kekentalan bahan (ratio pati dan air), presentase enzim dan proses fermentasi. Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan sagu sebagai berikut:
Sagu (empelur) di parut  dipanaskan  aduk rata  dinginkan  tambahkan enzim  aduk rata  tambahkan urea dan NPK  aduk rata  fermentasi  distilasi  bioetanol  pemurnian

energi hijau pengganti minyak tanah...BISA..!!!


Ada banyak tumbuhan di negeri ini yang bisa dimanfaatkan sebagai energi hijau untuk menjadi pengganti BBM fosil yang kian langka. Memilih energi hijau haruslah bijak.

Analisa usaha industri bio etanol

Analisa usaha industri bio etanol


Dengan harga bahan baku singkong Rp. 200,- biaya produksi per liter Rp. 2.439 payback periode 0.7 tahun.

Dengan harga bahan baku singkong Rp. 300,- biaya produksi per liter Rp. 3.039 payback periode 0.9 tahun.

Dengan harga bahan baku singkong Rp. 400,- biaya produksi per liter Rp. 3.639 payback periode 1.3 tahun.

Dengan harga bahan baku singkong Rp. 500,- biaya produksi per liter Rp. 4.239 payback periode 2.5 tahun.

Dengan harga bahan baku singkong Rp. 500,- biaya produksi per liter Rp. 4.839 payback periode 11.9 tahun.

untuk usaha industri bio etanol lebih baik nya bahan baku singkongnya melakukan kemitraan dengan masyarakat. Masyarakat yang menyediakan lahan pengolahan lahan dan pemeliharaan tanaman, pengusaha bie etanol yang menyediakan bibit singkong (menggunakan singkong jenis varietas unggul) dan membeli hasil panennya. Dengan demikian pengusaha bio etanol akan memperoleh harga bahan baku yang murah (dikisaran Rp. 250,- per kg)

Analisa global usaha bio etanol

Analisa global usaha industri bio etanol

Indonesia berpotensi sebagai produsen bioetanol terbesar di dunia. Menurut Dr Ir Arief Yudiarto, periset di Balai Besar Teknologi Pati, ada 3 kelompok tanaman sumber bioetanol: tanaman mengandung pati, bergula, dan serat selulosa. ‘Seluruhnya ada di Indonesia,’ ujarnya.

Salah satu bahan baku yang sohor digunakan di tanah air adalah molase alias tetes tebu. Limbah pabrik gula itu berkadar gula mencapai 50%. Untuk menghasilkan seliter bioetanol diperlukan 4 kg molase. Bahan baku lainnya adalah singkong. Tanaman itu adaptif di berbagai daerah. Itulah sebabnya singkong menjadi salah satu pilihan bahan baku. Kerabat euphorbia itu salah satu sumber pati. Rata-rata kadar pati singkong 28,5%. Untuk menghasilkan seliter bietanol perlu 6,5 kg singkong. selain itu sagu juga bisa digunakan sebagai bahan baku bioetanol.

Berikut analisis usaha produksi bioetanol dari kedua bahan baku.

Asumsi:

1. Lahan yang digunakan untuk produksi adalah milik sendiri, bukan sewa.
2. Umur ekonomis mesin produksi bioetanol 10 tahun.
3. Umur ekonomis zeolit lokal 500 kali pemakaian setara 500 hari.
4. Jam kerja produksi 8 jam/hari.
5. Harga jual bioetanol berkadar 99% Rp5.500 per liter.
6. Tingkat suku bunga Bank Indonesia saat perhitungan 8%.
7. Kapasitas produksi 70 liter per hari.
8. Bioetanol yang dihasilkan berkadar 99%.
Bahan baku singkong

Jenis biaya Jumlah harga satuan (Rp) total (Rp)
1. mesin 1 paket 150.000.000 150.000.000
2. zeolit local 2x47kg 1500/kg 141.000

Total 150.141.000
Biaya produksi 455 kg 300/kg 136.500
Enzim alfa amilase 81 g 71.000/kg 9.585
Enzim beta amilase 81 g 77.000/kg 6.237
Ragi 310 g 75.000/kg 23.250
Urea 161 g 2000/kg 322
NPK 80 g 3500/kg 280
Minyak tanah 121 3000/l 36.000
Listrik 10 kwh 650/kwh 6500
Air 4 m3 1000/m3 4000
Tenaga kerja 3 orang 20.000/org/hari 60.000
Biaya penyusutan mesin 41.096
Biaya penyusutan zeolit 141

Total biaya produksi per hari 323.911
Biaua produksi per liter 4.627.3
Pendapatan per hari 385.000
Laba per hari 61.089
R/C ratio 1,19
Net B/C ratio 19%
Payback period 6,73
Sumber: PT Panca Jaya Raharja dan B2TP BPPT, telah diolah

Dari analisis di atas dapat disimpulkan, dengan tingkat keuntungan 19%, produksi bioetanol berbahan baku singkong layak diusahakan karena lebih menguntungkan daripada menyimpan dana di bank dengan tingkat bunga Bank Indonesia per 6 Desember 2007 sebesar 8%. Investasi yang ditanamkan untun usaha produksi bioetanol kembali setelah 6 tahun 9 bulan.

Jumat, 11 Desember 2009

BIOETANOL PENGGANTI MINYAK TANAH....




BIOETANOL PENGGANTI MINYAK TANAH....

"Sejak harga BBM naik yang juga menaikkan harga mitan (minyak tanah) dan gas elpiji, bioethanol bahan bakar fermentasi dari limbah yang tadinya tidak direspon keberadaannya oleh masyarakat kini mulai dilirik untuk digunakan sebagai alternatif bahan bakar menggantikan mitan dan elpiji"

Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar nabati yang saat ini menjadi primadona untuk mengggantikan minyak bumi. Minyak bumi saat ini harganya semakin meningkat, selain kurang ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Sementara bioetanol dapat diproduksi dari berbagai bahan baku yang banyak terdapat di Indonesia, selain sagu sumber potensial lain yaitu singkong, tebu, aren, jambu mete, jagung dan lain-lain.

Bioetanol dapat dihasilkan dari hasil pertanian yang tidak layak/tidak bisa dikonsumsi, seperti dari sampah/limbah pasar, limbah pabrik gula (tetes/mollases). Yang penting bahan apapun yang mengandung karbohidrat & gula, dapat diproses menjadi bioetanol. Melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, bahan-bahan tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar bioetanol.

Penggunaan bioetanol sebagai campuran BBM dapat mengurangi emisi karbon monooksida dan asap lainnya dari kendaraan. Hal ini sudah dibuktikan oleh beberapa negara yang sudah lebih dulu mengaplikasikannya, seperti Brazil dan Jepang. Perkembangan bisnis bioetanol di Indonesia seharusnya juga bisa menyamai kedua negara tersebut. Dengan melimpahnya bahan baku, seharusnya kita bisa menggantikan sebagian pemakaian BBM yang sudah semakin langka dengan bioetanol. Selain untuk bahan bakar (Fuel Grade Ethanol), Bioethanol dapat digunakan untuk industri kimia, farmasi, kedokteran, kosmetik, bahan baku aneka minuman, dll.

Bioethanol bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah sendiri dengan mudah, selain itu juga lebih ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah. Bila sehari menggunakan minyak tanah seharga Rp 16 ribu, maka dengan bioethanol bisa hemat Rp 4 ribu. Pengalaman membuat dan menggunakan bioethanol ini diceritakan oleh Bambang Kisudono, warga kota Surabaya yang memanfaatkan sampah dapurnya untuk membuat dan mengembangkan bioethanol di lingkungannya. Awalnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Surabaya (ITS) dari kajiannya menyimpulkan bahwa bioethanol dengan kompor khusus terbukti lebih efisien ketimbang kompor kerosin. Sehingga membuat Bambang berinisiatif melakukan pengolahan bioethanol sendiri.

Perbandingan penggunaan bioethanol dan minyak tanah adalah 1:3. Artinya dengan 3 liter minyak tanah, sebanding dengan satu liter bio-ethanol. Dengan volume 100 cc akan membuat api menyala sekitar 30-40 menit. Skala rumahan proses pembuatan bioethanol terbagi tiga, yaitu bahan berpati, bergula dan bahan selulosa. Bahan baku bergula, misalnya tebu, nira, dan aren. Sedangkan bahan berpati, misalnya sagu, ubi kayu, jagung, biji sorgum, dan kentang manis. Bahan ini umumnya dimakan oleh manusia. Sehingga sebaiknya pengembangan bioethanol masa depan lebih ditujukan kepada penggunaan bahan yang tidak dimakan manusia, sehingga tidak mengganggu ketahanan pangan nasional.

Harga bioethanol sendiri cukup terjangkau bagi kalangan menengah ke bawah, karena memang target utama bahan bakar bioethanol adalah masyarakat menengah ke bawah yang semakin tercekik dengan harga mitan (minyak tanah), elpiji dan bensin.

Pembuatan etanol dari pati dapat dilakukan secara kimia ataupun biologis. Akan tetapi jika berbicara “bioetanol” tentunya proses yang dipakai adalah secara biologis. dengan menggunakan enzim alfa dan glucoamilase yang mampu mengurai pati menjadi gula dan selanjutnya difermentasi lanjut menjadi bioetanol. Bioetanol juga dapat diperoleh dari serat dengan menggunakan enzim selulase. Efektivitas proses ini dipengaruhi oleh jenis enzim, kekentalan bahan (ratio pati dan air), presentase enzim dan proses fermentasi. Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan sagu sebagai berikut:
Sagu (empelur) di parut  dipanaskan  aduk rata  dinginkan  tambahkan enzim  aduk rata  tambahkan urea dan NPK  aduk rata  fermentasi  distilasi  bioetanol  pemurnian

Proses fermentasi berlangsung beberapa jam setelah semua bahan dimasukkan ke dalam fermentor. Proses ini berjalan ditandai dengan keluarnya gelembung-gelembung udara kecil-kecil Gelembung-gelembung udara ini adalah gas CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi. Selama proses fermentasi usahakan agar suhu tidak melebihi 36oC dan pH nya dipertahankan 4.5 – 5. Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama 2 sampai 3 hari. Salah satu tanda bahwa fermentasi sudah selesai adalah tidak terlihat lagi adanya gelembung-gelembung udara.

Setelah proses fermentasi selesai, masukkan cairan fermentasi ke dalam evaporator atau boiler. Panaskan dengan suhu dipertahankan antara 79 – 81oC. Pada suhu ini bioetanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap. Uap etanol dialirkan ke distilator. Bioetanol akan keluar dari pipa pengeluaran distilator. Distilasi pertama, biasanya kadar etanol masih di bawah 95%. Apabila kadar etanol masih di bawah 95%, distilasi perlu diulangi lagi (reflux) hingga kadar bioetanolnya 95%. Jika kadar etanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau penghilangan air. Untuk menghilangkan air bisa menggunakan kapur tohor atau zeolit sintetis. Tambahkan kapur tohor pada etanol. Biarkan semalam. Setelah itu didistilasi lagi hingga kadar airnya berkurang, dan kadar bioetanol yang diperoleh dapat mencapai 98-99%.