Jumat, 25 Desember 2009

PROSPEK BIOETANOL SEBAGAI PENGGANTI MINYAK TANAH

PROSPEK BIOETANOL SEBAGAI PENGGANTI MINYAK TANAH

Oleh : Gusmailina (Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor)

RINGKASAN

Bioetanol (C2H5OH) merupakan salah satu bahan bakar nabati yang saat ini menjadi primadona untuk mengggantikan minyak bumi. Minyak bumi saat ini harganya semakin meningkat, selain kurang ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Bioetanol mempunyai kelebihan selain ramah lingkungan, penggunaannya sebagai campuran BBM terbukti dapat mengurangi emisi karbon monoksida dan asap lainnya dari kendaraan. Saat ini bioethanol juga bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah dengan mudah, lebih ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah. Dengan demikian bisnis bioetanol di Indonesia mempunyai prospek yang cerah karena melimpahnya bahan baku, seperti singkong, tebu, aren, jagung maupun hasil samping pabrik gula (molases). Dari sektor kehutanan bioetanol bisa dihasilkan dari sagu, nipah, dan aren.
Tulisan ini mencoba menguraikan secara global tentang prospek beberapa komoditi sebagai sumber bioetanol untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah.


Kata kunci: bioetanol, energi, alternatif, minyak tanah.


======================================================================

I. PENDAHULUAN

a. Bioetanol
Bioetanol (C2H5OH) merupakan salah satu biofuel yang hadir sebagai bahan bakal alternatif yang lebih ramah lingkungan dan sifatnya yang terbarukan. Merupakan bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan yang memiliki keunggulan karena mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18 %. Bioetanol dapat diproduksi dari berbagai bahan baku yang banyak terdapat di Indonesia, sehingga sangat potensial untuk diolah dan dikembangkan karena bahan bakunya sangat dikenal masyarakat. Tumbuhan yang potensial untuk menghasilkan bioetanol antara lain tanaman yang memiliki kadar karbohidrat tinggi, seperti: tebu, nira, aren, sorgum, ubi kayu, jambu mete (limbah jambu mete), garut, batang pisang, ubi jalar, jagung, bonggol jagung, jerami dan bagas Banyaknya variasi tumbuhan akan lebih leluasa memilih jenis yang sesuai dengan kondisi tanah yang ada. Sebagai contoh ubi kayu dapat tumbuh di tanah yang kurang subur, memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit dan dapat diatur waktu panennya. Namun kadar patinya hanya 30 persen, lebih rendah dibandingkan dengan jagung (70 persen) dan tebu (55 persen) sehingga bioetanol yang dihasilkan jumlahnya pun lebih sedikit. Di sektor kehutanan bioetanol dapat diproduksi dari sagu, siwalan dan nipah serta kayu atau limbah kayu.
Minyak bumi saat ini harganya semakin meningkat, selain kurang ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Bioetanol dapat dihasilkan dari hasil pertanian yang tidak layak/tidak bisa dikonsumsi, seperti dari sampah/limbah pasar, limbah pabrik gula (tetes/mollases). Yang penting bahan apapun yang mengandung karbohidrat & gula, dapat diproses menjadi bioetanol. Melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, bahan-bahan tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar bioetanol. Untuk menjaga kestabilan pangan sebaiknya bioetanol diproduksi dari bahan-bahan yang tidak layak/tidak bisa dikonsumsi, seperti singkong gajah yang beracun, dari sampah atau limbah apapun yang mengandung karbohidrat & gula, melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, bahan-bahan tersebut akhirnya dikonversi menjadi bioetanol.
Produksi etanol nasional pada tahun 2006 mencapai 200 juta liter. Kebutuhan etanol nasional pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 900 juta kiloliter (Surendro, 2006). Saat ini bioetanol diproduksi dari tetes tebu, singkong maupun dari jagung. Alternatif lain bahan baku bioetanol yaitu biomassa berselulosa. Biomassa berselulosa merupakan sumber daya alam yang berlimpah dan murah serta memiliki potensi untuk produksi komersial industri etanol atau butanol. Selain dikonversi menjadi biofuel, biomassa berselulosa juga dapat mendukung produksi komersial industri kimia seperti asam organik, aseton atau gliserol (Wymann, 2002).
Bioetanol adalah cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat dengan bantuan mikroorganisme (Anonim, 2007). Bioetanol dapat juga diartikan juga sebagai bahan kimia yang memiliki sifat menyerupai minyak premium (Khairani, 2007). Bahan baku pembuatan bioetanol ini dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: bahan sukrosa (nira, tebu, nira nipah, nira sargum manis, nira kelapa, nira aren, dan sari buah mete), bahan berpati (bahan yang mengandung pati atau karbohidrat seperti tepung ubi, tepung ubi ganyong, sorgum biji, jagung, cantel, sagu, ubi kayu, ubi jalar, dan lain–lain, dan bahan berselulosa/lignoselulosa (tanaman yang mengandung selulosa /serat seperti kayu, jerami, batang pisang, dan lain-lain. Dari ketiga jenis bahan baku tersebut, bahan berselulosa merupakan bahan yang jarang digunakan dan cukup sulit untuk dilakukan. Hal ini karena adanya lignin yang sulit dicerna sehingga proses pembentukan glukosa menjadi lebih sulit dan sedikit (Khairani, 2007).

b. Biogasoline (gasohol) dan perkembangannya
Gasohol adalah campuran antara bioetanol dan bensin dengan porsi bioetanol sampai dengan 25% yang dapat langsung digunakan pada mesin mobil bensin tanpa perlu memodifikasi mesin. Hasil pengujian kinerja mesin mobil bensin menggunakan gasohol menunjukkan gasohol E-10 (10% bioetanol ) dan gasohol E-20 (20% bioetanol) menunjukkan kinerja mesin yang lebih baik dari premium dan setara dengan pertamax. (The Largest Aceh Community, 2008). Bahan campuran ini juga menghasilkan emisi karbon monoksida dan total hidrokarbon yang lebih rendah dengan yang lainnya. Biogasoline atau dikenal juga dengan nama Gasohol, telah dijual secara luas di Amerika Serikat, dengan campuran 10% bioetanol (dari bahan baku jagung) dan 90% gasoline. Di Brazil, bioetanol untuk campuran gasoline dibuat dari bahan baku tebu, dan digunakan dalam kadar 10%. Di Finlandia, biogasoline yang digunakan memiliki kadar bioetanol 5% dan memiliki angka oktan 98. Di Jepang, sejak tahun 2005 sudah mulai digunakan gasoline dengan campuran 3% bioetanol, dan diharapkan pada tahun 2012 seluruh gasoline yang dijual di Jepang sudah menggunakan biogasoline. Sejak tahun 2006 Thailand telah menjual gasohol 95, dan direncanakan pada tahun 2012 Thailand akan mengganti seluruh gasoline dengan biogasoline.
Lebih awal lagi Brazil sejak tahun 1925 telah mengembangkan bioetanol yang bersumber dari tebu dengan melakukan ujicoba pada kendaraan. Pengembangan mengalami proses yang cukup lama namun mendapat dukungan penuh dari pemerintah dalam bentuk regulasi dan insentif, sehingga saat ini pengembangan biofuel di Brazil telah menggunakan mekanisme pasar. Dari seluruh produksi tebu, perbandingan untuk pemanfaatan sebagai gula dan bioetanol adalah sekitar 50:50. Biaya produksi bioetanol tergolong murah karena sumber bahan bakunya merupakan limbah pertanian atau produk pertanian yang nilai ekonomisnya rendah serta berasal dari hasil pertanian budidaya tanaman pekarangan (hortikultura) yang dapat diambil dengan mudah
Sebagai sebagai bahan bakar bioetanol mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya lebih ramah lingkungan, karena bahan bakar tersebut memiliki nilai oktan 92 lebih tinggi dari premium nilai oktan 88, dan pertamax nilai oktan 94. Hal ini menyebabkan bioetanol dapat menggantikan fungsi zat aditif yang sering ditambahkan untuk memperbesar nilai oktan. Zat aditif yang sering digunakan seperti metal tersier butil eter dan Pb, namun zat aditif tersebut sangat tidak ramah lingkungan dan bisa bersifat toksik. Bioetanol merupakan bahan bakar yang tidak mengakumulasi gas karbon dioksida (CO2) dan relatif kompetibel dengan mesin mobil berbahan bakar bensin. Kelebihan lain dari bioetanol ialah cara pembuatannya yang lebih sederhana yaitu fermentasi menggunakan mikroorganisme tertentu (Mursyidin, 2007).
Bulan Agustus 2006, Pertamina telah meluncurkan produk BioPremium, namun masih terbatas di SPBU Jl. Mayjen M. Wiyono, Malang. BioPremium yang dijual dibuat dari campuran BBM Premium dan 5% bioetanol. Bioetanol untuk campuran BioPremium diproduksi oleh PT Molindo Raya Industrial (MRI) di Lawang dengan bahan baku tetes tebu. Sejak diluncurkan, respon masyarakat cukup baik, dengan meningkatnya omzet penjualan. Sedangkan di Jakarta, sejak Desember 2006 sudah bisa dilihat BioPertamax di beberapa SPBU, antara lain di SPBU di Jl. Tentara Pelajar, Senayan. Pengembangan selanjutnya di wilayah Jawa Barat, di mana Pertamina meluncurkan BioPremium di Bandung tahun 2007. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, direncanakan akan didirikan pabrik etanol berkapasitas 200 juta liter etanol per tahun oleh LBL Network Ltd. dari Korea Selatan bekerja sama dengan PT Mitra Sae Internasional di Kuningan, dengan bahan dasar ubi kayu spesies Manihot esculanta trans.w (http://www.pertamina.com)

II. POTENSI SUMBER BIOETANOL

A. 1. Potensi sagu
Sagu (Metroxylon spp) merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK). Tumbuhan ini merupakan tumbuhan penghasil karbohidrat yang cukup tinggi dibanding dengan tanaman penghasil karbohidrat lainnya. Secara alami tumbuhan sagu tersebar hampir di setiap pulau atau kepulauan di Indonesia dengan luasan terbesar terpusat di Papua, sedangkan sagu semi budidaya terdapat di Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Tumbuhan ini merupakan asli Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai energi mix atau sebagai pencampur premium dan pertamax (E) atau dalam kondisi tertentu dari mesin dapat digunakan secara penuh (E100).
Populasi tumbuhan sagu di Indonesia diperkirakan terbesar di dunia sekitar 1,2 juta ha dan 90% diantaranya tumbuh di propinsi Papuas dan Maluku (Flach, 1997). Ke dua daerah tersebut termasuk pusat keragaman sagu tertinggi didunia, juga di beberapa daerah lain yang sudah mulai dimanfaatkan potensinya (semi budidaya). Informasi luas hutan alam sagu Indonesia menurut Flach (1997) yaitu 1.250.000 ha, yang tersebar di Papua 1.200.000 ha dan Maluku 50.000ha serta 148.000 ha hutan sagu semi budidaya yang tersebar di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, kepulauan Riau dan Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat). Akan tetapi dari luasan tersebut hanya sekitar 40% saja yang merupakan areal penghasil pati produktif dengan produktivitas pati 7 ton/ha/tahun atau setara dengan etanol 3,5 kl/ha/tahun.

A B
Gambar 1. A. Tegakan sagu rakyat di Kabupaten Padang Pariaman, bekas tebangan sagu (B).
(Foto dok.Gusmailina dan Sri K, 2009)

Menurut Poniman (1996) di Irian Jaya terdapat sekitar 1.406.469 ha tegakan sagu. Setiap ha tegakan sagu per tahun paling sedikit dihasilkan 2,5 ton pati sagu (Flach, 1983). Dengan demikian di Irian Jaya terdapat potensi pati sagu sekitar 3.516.176 ton sagu/tahun. Untuk kebutuhan pangan, masyarakat Irian membutuhkan sekitar 150.000 ton sagu/tahun. Dari data ini di Itian Jaya terdapat potensi sagu sekitar 3,1 juta ton yang menunggu pemanfaatannya. di Mentawai (Rasyad, 1996) terdapat sekitar 56.100 ha tegakan sagu dengan produksi sekitar 1.200 ton. Dengan demikian di Mentawai terdapat potensi pati sagu sekitar 139.000 ton/tahun. Di Padang Pariaman terdapat tegakan sagu sekitar 95.790 ha dengan produksi 5.063 ton/tahun (Zuki, 1996), di daerah ini terdapat potensi sagu yang belum dimanfaatkan sebanyak 234.412 ton sagu/tahun. Dari penjelasan tersebut potensi sagu sangat tinggi dan sudah saatnya dilakukan pemanfaatan pohon sagu agar tidak mubazir. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, telah merintis pemanfaatan sagu menjadi bioetanol, baik skala laboratorium mapun skala usaha kecil. Dan ini merupakan penelitian awal dalam rangka menuju optimalisasi produksi dan produktivitas bioetanol dari sagu.

A.2. Pati Sagu sebagai Sumber Bioetanol

Pati sagu disebut juga poliglukosa, karena unit monomernya glukosa. Pati sagu lebih murni karena miskin kandungan lemak, protein dan senyawa lain, sehingga pati sagu sangat cocok digunakan sebagai bahan baku pembuatan turunan pati seperti dekstrin, dekstrose, gula, dan produk turunan lainnya. Pati sagu diekstrak dari empulur batang yang mengandung pati (27-31%), serat (20-24%) dan air (45-53%). Ekstraksi dilakukan dengan metode aliran air, sehingga air sangat berpengaruh terhadap kualitas mutu sagu. Bioetanol dari sagu berasal dari dua bagian yaitu pati sagu dan serat sagu. Sedangkan prosesnya berlangsung dalam empat tahapan yaitu : 1) hidrolisa bahan menjadi oligosacharida; 2) hidrolisa oligosacharida menjadi gula; 3) konversi gula menjadi etanol, 4) pemurnian bioetanol.
Pembuatan etanol dari pati dapat dilakukan secara kimia ataupun biologis. Akan tetapi jika berbicara “bioetanol” tentunya proses yang dipakai adalah secara biologis. dengan menggunakan enzim alfa dan glucoamilase yang mampu mengurai pati menjadi gula dan selanjutnya difermentasi lanjut menjadi bioetanol. Bioetanol dapat diperoleh dari serat dengan menggunakan enzim selulase. Efektivitas proses ini dipengaruhi oleh jenis enzim, kekentalan bahan (ratio pati dan air), presentase enzim dan proses fermentasi. Langkah-langkah pembuatan bioetanol berbahan sagu sebagai berikut:
Sagu (empelur) di parut  dipanaskan  aduk rata  dinginkan  tambahkan enzim  aduk rata  tambahkan urea dan NPK  aduk rata  fermentasi  distilasi  bioetanol  pemurnian


A B
Gambar 2. Pemarutan sagu sebagai proses awal pembuatan bioetanol (A) dan Proses fermentasi (B). (foto dok. Gusmailina dan Sri K, 2009)
Proses fermentasi berlangsung beberapa jam setelah semua bahan dimasukkan ke dalam fermentor. Proses ini berjalan ditandai dengan keluarnya gelembung-gelembung udara kecil-kecil Gelembung-gelembung udara ini adalah gas CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi. Selama proses fermentasi usahakan agar suhu tidak melebihi 36oC dan pH nya dipertahankan 4.5 – 5. Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama 2 sampai 3 hari. Salah satu tanda bahwa fermentasi sudah selesai adalah tidak terlihat lagi adanya gelembung-gelembung udara.


Gambar 3. Proses distilasi skala laboratorium untuk mendapatkan bioetanol
(foto dok. Gusmailina dan Sri k, 2009)

Setelah proses fermentasi selesai, masukkan cairan fermentasi ke dalam evaporator atau boiler. Panaskan dengan suhu dipertahankan antara 79 – 81oC. Pada suhu ini bioetanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap. Uap etanol dialirkan ke distilator. Bioetanol akan keluar dari pipa pengeluaran distilator. Distilasi pertama, biasanya kadar bioetanol masih di bawah 95%. Apabila kadar bioetanol masih di bawah 95%, distilasi perlu diulangi lagi (reflux) hingga kadar bioetanolnya 95%. Jika kadar bioetanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau penghilangan air. Untuk menghilangkan air bisa menggunakan kapur tohor atau zeolit sintetis. Tambahkan kapur tohor pada etanol. Biarkan semalam. Setelah itu didistilasi lagi hingga kadar airnya berkurang, dan kadar bioetanol yang diperoleh dapat mencapai 98-99%.
B. Bioetanol dari TKKS
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah biomassa selulosa yang memiliki potensi besar dengan kelimpahan cukup tinggi. TKKS merupakan hasil samping dari pengolahan minyak kelapa sawit yang pemanfaatannya masih terbatas sebagai pupuk, bahan baku pembuatan matras dan media bagi pertumbuhan jamur serta tanaman. Hasil penelitian Iriani (2009) bertujuan untuk mendapatkan kondisi sakarifikasi terbaik padaTKKS dengan menggunakan Trichoderma reesei dan melakukan fermentasi alkohol oleh Saccharomyces cerevisiae, yang masing-masing menghasilkan konsentrasi gula pereduksi dan alkohol paling tinggi . TKKS yang digunakan selama proses sakarifikasi terlebih dulu diberi perlakuan awal yakni dengan pemanasan di suhu 1210C, dengan tekanan 1,5 atm selama 90 menit. Sakarifikasi menggunakan metode fermentasi padat, yakni dengan menginokulasikan suspensi spora T.reesei sebanyak 10% v/b (3,5-7,4`x108sel/mL) ke dalam TKKS yang telah ditambahkan medium basal Mandels & Waber dan akuades dengan perbandingan 3:4, sehingga kelembaban mencapai 70 %. Sakarifikasi dilakukan selama 8 hari. Parameter yang diamati setiap 48 jam adalah kadar gula pereduksi, aktivitas CMCase (endoglukanase), beta-glukosidase dan pH medium. Optimasi suhu sakarifikasi yang dilakukan adalah pada suhu 250C, 300C dan 350C. Suhu sakarifikasi terbaik diperoleh pada 300C, dengan kadar gula pereduksi paling tinggi 1,46 mg/g substrat yang diperoleh pada hari ke-8. Selanjutnya suhu tersebut digunakan pada penentuan pH awal terbaik padamedium sakarifikasi dengan nilai pH 4,5 ; 5; 5,5 ; dan 6. Konsentrasi gulapereduksi paling tinggi ada pada pH awal medium 5,5 yakni sebesar 1,5 mg/gsubstrat pada hari ke-8.Sakarifikasi ulang dilakukan dengan menggunakan suhu dan pH awal terbaikselama 12 hari. Filtrat gula hasil sakarifikasi hari ke-12 digunakan sebagaisubstrat fermentasi alkohol. Inokulum fermentasi yang digunakan adalah Saccharomyces cereviseae sebanyak 5% v/v (5,35 x 108 sel/mL) sel diinokulasikan ke dalam medium dan difermentasi secara anaerob selama 96 jam.
Parameter yang diamati adalah kadar gula pereduksi, kadar etanol, jumlah sel serta pH medium. Konsentrasi etanol paling tinggi yang dihasilkan pada fermentasi selama 72 jam sebesar 0,046 % dengan konversi gula menjadi etanol sebesar 47,32%. Kandungan selulosa TKKS sekitar 45.80% dan hemiselulosa 26.00%. Jika perhitungan minimal menurut Badger (2002) maka potensi bioetanol dari TKKS adalah sebesar 2,000 juta liter atau setara dengan 1446.984 liter bensin (Anonim, 2008). Produksi bioetanol berbahan baku limbah kelapa sawit layak diusahakan karena tingkat keuntungan mencapai 75 %.

C. Bioetanol dari pati Ganyong (Canna edulis)
Di Indonesia Ganyong (Canna edulis) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat, antara lain: umbi mudanya untuk sayuran, umbi tuanya dapat diperas patinya untuk dibuat tepung, sedangkan daun dan tangkainya dapat digunakan untuk pakan ternak (Rukmana, 2000). Umbi ganyong mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk produksi glukosa dan fermentasi etanol. Hidrolisis pati dapat dilakukan dengan katalis asam, kombinasi asam dan enzim, serta kombinasi enzim dan enzim (Judoamidjojo et al., 1992). Hasil penelitian Wulansari (2004) dan Putri & Sukandar (2008) menunjukkan bahwa pati ganyong memiliki kadar karbohidrat 80% dan kadar air 18%, Pati ganyong memiliki warna putih kecoklatan dan tekstur halus. Kadar pati yang tinggi menunjukkan bahwa pati ganyong dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan sirup glukosa kadar pati yang tinggi menunjukkan bahwa pati ganyong juga dapat dijadikan bahan baku untuk bioetanol. Jenis asam dan konsentrasi asam tidak berpengaruh signifikan terhadap gula pereduksi yang dihasilkan pada hidrolisis pati ganyong, hidrolisis optimum didapat dengan HNO3 7% (DE = 28,4 ). Kadar glukosa pada fermentasi mempengaruhi kadar etanol yang dihasilkan, pada penelitian ini fermentasi dengan kadar glukosa hasil hidrolisis sebesar 4,81% menghasilkan etanol 4,84%, sedangkan dengan kadar glukosa 14% etanol yang dihasilkan meningkat menjadi 8,6%.

D. Bioetanol dari Nira Sorgum

Sorgum (Sorgum bicolor L.) merupakan salah satu jenis tanaman serelia yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai area adaptasi yang luas. Sorgum merupakan tanaman yang bukan asli Indonesia, melainkan dari Ethiopia dan Sudan Afrika. Di Indonesia sorgum mempunyai beberapa nama seperti gandrung, jagung pari, dan jagung canthel. Tanaman ini toleran terhadap kekeringan dan genangan air, dapat berproduksi pada lahan marginal, serta relatif tahan terhadap gangguan hama atau penyakit. Selama ini batang sorgum hanya digunakan untuk pakan ternak. Nira sorgum yang berasal dari batang tanaman sorgum bisa dimanfaatkan untuk membuat bioetanol, karena komposisi nira sorgum hampir sama dengan nira tebu. Batang sorgum apabila diperas akan menghasilkan nira yang rasanya manis. Kadar air dalam batang sorgum kurang lebih 70 persen yang artinya kandungan niranya kurang lebih hamper sama. Selama ini batang sorgum yang menghasilkan nira biasanya hanya digunakan sebagai pakan ternak, sehingga belum memiliki nilai ekonomis yang optimal. Mengingat nira sorgum mengandung kadar glukosa yang cukup besar (Tabel 1), serta memiliki kualitas setara dengan nira tebu, maka sorgum boleh menjadi pertimbangan sebagai salah satu potensi penghasil bioetanol masa depan.
Tabel 1. Perbandingan komposisi nira sorgum dengan nira tebu

Komposisi Nira sorgum Nira tebu
Brix (%) 13,60 – 18,40 12 – 19
Sukrosa (%) 10 – 14,40 9 - 17
Gula reduksi (%) 0,75 – 1,35 0,48 – 1,52
Gula total (%) 11 – 16 10 – 18
Amilum (ppm) 209 - 1.764 1,50 – 95
Asam akonitat (%) 0,56 0,25
Abu (%) 1,28 – 1,57 0,40 – 0,70
Sumber : Direktorat Jendral Perkebunan (1996).

Hasil penelitian Sari (2009), menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh adalah variabel % volume starter. Setelah dilakukan optimasi terhadap variabel tersebut, kondisi optimum diperoleh dari proses fermentasi yang menggunakan Saccharomyces ceerevisiae pada waktu fermentasi 7 hari, kadar glukosa 14,5 %, serta penambahan starter 9 % dari volume total. Bioetanol yang dihasilkan adalah 11,82 %. dengan konversi bioetanol yang cukup tinggi yaitu sebesar 46,21 %. Sorgum yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan juga berprospek menjadi bahan bioetanol, 2,5 kg sorgum kawali dapat menjadi seliter bioetanol.

E. Bioetanol dari Tetes Tebu ( Molase )
Molase atau tetes tebu mengandung kurang lebih 60% sellulosa dan 35,5% hemiselullosa. Kedua bahan polysakarida ini dapat dihidrolisis menjadi gula sederhana yang selanjutnya dapat difermentasi menjadi ethanol. Potensi produksi molase ini per ha kurang lebih 10 – 15 ton, Jika seluruh molase per ha ini diolah menjadi ethanol (fuel grade ethanol), maka potensi produksinya kurang lebih 766 hingga 1,148 liter/ha FGE. Produksi bioetanol berbahan baku molase layak diusahakan karena tingkat keuntungan mencapai 24%.

F. Bioetanol dari Jerami Padi
Jerami padi mengandung kurang lebih 39% sellulosa dan 27,5% hemiselullosa. Kedua bahan polysakarida ini dapat dihidrolisis menjadi gula sederhana yang selanjutnya dapat difermentasi menjadi bioethanol. Potensi produksi jerami padi per ha kurang lebih 10 – 15 ton, jerami basah dengan kadar air kurang lebih 60%. Jika seluruh jerami per ha ini diolah menjadi ethanol (fuel grade ethanol), maka potensi produksinya kurang lebih 766 hingga 1,148 liter/ha FGE (perhitungan ada di lampiran). Dengan asumsi harga ethanol fuel grade sekarang adalah Rp. 5500,- (harga dari pertamina), maka nilai ekonominya kurang lebih Rp. 4,210,765 hingga 6,316,148 /ha.
Menurut data BPS tahun 2006, luas sawah di Indonesia adalah 11.9 juta ha. Artinya, potensi jerami padinya kurang lebih adalah 119 juta ton. Apabila seluruh jerami ini diolah menjadi bioethanol maka akan diperoleh sekitar 9,1 milyar liter bioethanol (FGE) dengan nilai ekonomi Rp. 50,1 trilyun. Jika dihitung-hitung ethanol dari jerami sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan bensin nasional. Kandungan jerami padi cocok untuk diolah menjadi bioetanol, namun perlu dipertimbangkan juga terhadap hara yang harus dikembalikan lagi ke lahan setelah panen dilakukan.
Potensi bioetanol dari jerami padi menurut Kim and Dale (2004) adalah sebesar 0.28 l/kg jerami. Sedangkan kalau dihitung dengan cara Badger (2002) adalah sebesar 0.20l/kg jerami, sehingga dari data ini bisa diperkirakan berapa potensi bioetanol dari jerami padi di Indonesia (Tabel 3). Jika prediksi minimal dengan cara Badger (2002), maka jumlah bioetanol yang dihasilkan dapat menggantikan bensin sejumlah 7,915 - 11,874 juta liter, artinya cukup untuk memenuhi kebutuhan bensin nasional selama satu tahun.
Tabel 3. Potensi bioetanol dari jerami padi
Prediksi Prediksi potensi bioetanol
Kim and Dale (2004) 15,316 juta liter - 22,974 juta liter
Badger (2002) 10,940 juta liter - 16,410 juta liter


G. Bioetanol dari bonggol pisang

Bonggol pisang memiliki komposisi 76% pati, 20% air, sisanya adalah protein dan vitamin (Yuanita, 2008). Kandungan korbohidrat bonggol pisang tersebut sangat berpotensi sebagai sumber bioetanol. Bonggol pisang (Gambar 4) juga dapat dimanfaatkan untuk diambil patinya, pati ini menyerupai pati tepung sagu dan tepung tapioka. Bahan berpati yang digunakan sebagai bahan baku bioetanol disarankan memiliki sifat yaitu berkadar pati tinggi, memiliki potensi hasil yang tinggi, fleksibel dalam usaha tani dan umur panen yang pendek (Prihandana, 2007).


Gambar 4. Bonggol pisang salah satu sumber bioetanol
(sumber : Yuanita, 2008)


Bonggol pisang dikupas dan dibersihkan dari kotoran, kemudian dipotong kecil-kecil lalu dikeringkan dengan cara dijemur dan diangin-anginkan sampai kering. Bonggol pisang dibuat kering bertujuan agar lebih awet dan menghilangkan kandungan airnya sehingga diperoleh bonggol yang kering dan dapat disimpan sebagai cadangan bahan baku (Anonim, 2008). Bonggol pisang kering digiling dengan mesin penggiling atau ditumbuk dengan penumbuk sehingga menjadi serbuk halus. Serbuk bonggol pisang lalu disaring atau diayak sehingga diperoleh pati yang homogen. Hasil penelitian Assegaf (2009), menyimpulkan bahwa Bonggol pisang (Musa paradisiacal) mempunyai prospek sebagai sumber bioetanol. Metode yang diterapkan adalah metode hidrolisis asam dan enzimatis, namun dari kedua metode tsb metode hidrolisis secara enzimatis merupakan proses yang lebih baik dibandingkan hidrolisis dengan katalis asam.

H. Bioetanol dari sigkong karet (singkong gajah)

Singkong karet merupakan salah satu jenis singkong pohon yang mengandung senyawa beracun, yaitu asam sianida (HCN), sehingga tidak diperdagangkan dan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat (Anonim, 2006). Singkong karet (singkong gajah) kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat karena beracun, oleh karena itu sangat tepat sekali bila singkong jenis ini digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Penelitian Sriyanti (2003), menunjukkan bahwa dari tiga varietas singkong yakni varietas randu, mentega dan menthik ternyata kadar gula dan alkohol tertinggi terdapat pada varietas mentega yakni sebesar 11,8% mg untuk kadar gula, dan 2,94% mg untuk kadar alkohol. Menurut Sugiarti (2007) dalam Setyaningsih (2008), bahwa kandungan alkohol ubi kayu varietas randu yakni sebesar 51%. Menurut Ludfi (2006) dalam Setyaningsih (2008), setelah dilakukan pengujian terhadap kadar alcohol pada hasil fermentasi ampas umbi singkong karet, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar alkohol terendah adalah 11,70% pada waktu fermentasi 9 hari dan dosis ragi 2 gr. Sedangkan kadar alkohol tertinggi adalah 41,67% pada waktu fermentasi 15 hari dan dosis ragi 8 gr.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan uji coba pengembangan energi alternatif bioetanol dari bahan dasar singkong. Untuk menghasilkan bioetanol sekitar satu liter dibutuhkan sedikitnya 6,5 kilogram singkong. Bioetanol yang dihasilkan nantinya bisa untuk oktan 40% atau seperti minyak tanah, 70% seperti premium bahkan 90% seperti Pertamax. Biaya produksi untuk satu liternya sekitar Rp3.000 jadi kalau dijual Rp4.000 atau Rp5.000 tetap lebih murah dari premium.

I. Bioetanol dari Talas (Colocasia Esculenta)

Tanaman talas bentul (Colocasia esculenta L.) mempunyai nama lain Inggris yaitu taro, old cocoyam, dasheen, eddoe. Nama Prancis adalah taro. Di Indonesia dikenal dengan nama bentul, talas, keladi. Tanaman ini tumbuh dengan baik di tanah yang basah dengan temperatur 25–30 oC dan dengan kelembaban yang tinggi. Talas tumbuh dari ketinggian 1200 m dpl di Malaysia, di Filipina 1800, dan bahkan 2700 m di Papua New Guinea. Tanaman ini toleran terhadap naungan /tempat teduh dan ditanam sebagai tanaman selingan pada pertanian. Kadar pati talas 66.8 % sedangkan kadar air sekitar 7,2 %.
Retno, dkk., (2008) meneliti bioetanol dari tepung talas. Tepung talas kering selanjutnya digunakan pada reaksi hidrolisa dengan katalis enzim alpha amylase pada pH 6.9 suhu 80oC dan katalis enzim Glucoamylase pada pH 4.8 suhu 55 oC untuk menghasilkan glukosa. Bioetanol yang diperoleh dari 8.7 kg tepung talas sebesar 1006 ml. Biaya yang dibutuhkan pada pembuatan etanol fuel grade dari tepung Talas (Colocasia esculenta) dengan kadar 99.4 %, sebesar Rp. 6,625,00/ Liter (enam ribu enam ratus dua puluh lima per liter).

III. BIOETANOL SUMBER ENERGI TERBARUKAN YANG RAMAH LINGKUNGAN

Penggunaan bioetanol sebagai campuran BBM dapat mengurangi emisi karbon monooksida dan asap lainnya dari kendaraan. Hal ini sudah dibuktikan oleh beberapa negara yang sudah lebih dulu mengaplikasikannya, seperti Brazil dan Jepang. Perkembangan bisnis bioetanol di Indonesia seharusnya juga bisa menyamai kedua negara tersebut. Dengan melimpahnya bahan baku, seharusnya kita bisa menggantikan sebagian pemakaian BBM yang sudah semakin langka dengan bioetanol. Selain untuk bahan bakar (Fuel Grade Ethanol), Bioethanol dapat digunakan untuk industri kimia, farmasi, kedokteran, kosmetik, bahan baku aneka minuman, dll.
Bioethanol bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah sendiri dengan mudah, selain itu juga lebih ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah. Bila sehari menggunakan minyak tanah seharga Rp 16 ribu, maka dengan bioethanol bisa hemat Rp 4 ribu. Pengalaman membuat dan menggunakan bioethanol ini diceritakan oleh Bambang Kisudono, warga kota Surabaya yang memanfaatkan sampah dapurnya untuk membuat dan mengembangkan bioethanol di lingkungannya. Awalnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Surabaya (ITS) dari kajiannya menyimpulkan bahwa bioethanol dengan kompor khusus terbukti lebih efisien ketimbang kompor kerosin. Sehingga membuat Bambang berinisiatif melakukan pengolahan bioethanol sendiri.


Gambar 5. Kompor bioetanol
(foto koleksi Gusmailina, 2009)

Perbandingan penggunaan bioethanol dan minyak tanah adalah 1:3. Artinya dengan 3 liter minyak tanah, sebanding dengan satu liter bio-ethanol. Dengan volume 100 cc akan membuat api menyala sekitar 30-40 menit. Bahkan menurut peneliti bio-ethanol Ir Sri Nurhatika MP di ITS, Surabaya, mengemukakan lebih hemat lagi karena perbandingan 1 liter bioetanol sama dengan 9 liter minyak tanah. Skala rumahan proses pembuatan bioethanol terbagi tiga, yaitu bahan berpati, bergula dan bahan selulosa. Bahan baku bergula, misalnya tebu, nira, dan aren. Sedangkan bahan berpati, misalnya sagu, ubi kayu, jagung, biji sorgum, dan kentang manis. Bahan ini umumnya dimakan oleh manusia. Sehingga sebaiknya pengembangan bioethanol masa depan lebih ditujukan kepada penggunaan bahan yang tidak dimakan manusia, sehingga tidak mengganggu ketahanan pangan nasional.

IV. PENUTUP (PELUANG DAN PROSPEK)
Bioetanol adalah bahan bakar alternatif masa depan yang ramah lingkungan dan bersifat renewable,Bioetanol mempunyai kelebihan selain ramah lingkungan, penggunaannya sebagai campuran BBM terbukti dapat mengurangi emisi karbon monoksida dan asap lainnya dari kendaraan. Saat ini bioethanol juga bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah dengan mudah, lebih ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah. Dengan demikian bisnis bioetanol di Indonesia mempunyai prospek yang cerah karena melimpahnya bahan baku, seperti singkong, tebu, aren, jagung maupun hasil samping pabrik gula (molases). Dari sektor kehutanan bioetanol bisa dihasilkan dari sagu, nipah, dan aren.merupakan salah satu bahan bakar nabati yang saat ini menjadi primadona untuk mengggantikan minyak bumi.
Mengingat potensi hutan alam sagu Indonesia yang luas, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Mengingat variasi genetik yang terbesar di dunia, Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan sagu sebagai sumber energi alternatif masa datang. Untuk menutupi kebutuhan pangan hanya 5% dari potensi yang ada, sehingga sisanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bioetanol. Untuk pengembangan budidaya sagu, masyarakat selama ini sudah mengenal teknik perbanyakan tanaman sagu secara vegetatif, sehingga untuk mendorong masyarakat lebih giat membudidayakan sagu tidak sulit. Pemanfaatan hutan alam sagu, maupun hutan tanaman sagu, yang diiringi pengembangan budidaya serta berdirinya industri bioetanol akan dapat menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bioethanol bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah sendiri dengan mudah, selain itu juga lebih ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah. Bila sehari menggunakan minyak tanah seharga Rp 16 ribu, maka dengan bioethanol bisa hemat Rp 4 ribu. Perbandingan penggunaan bioethanol dan minyak tanah adalah 1:3. Artinya dengan 3 liter minyak tanah, sebanding dengan satu liter bio-ethanol. Dengan volume 100 cc akan membuat api menyala sekitar 30-40 menit.

Minggu, 13 Desember 2009



Proses untuk mengubah serpihan kayu, limbah pertanian dan biomasa lainnya menjadi bahan bakar transportasi telah meyita perhatian para peneliti. Salah satu dari peneliti yang tertarik mengembangkan teknologi ini adalah insinyur kimia George W. Huber, yang timnya di University of Massachusetts, Amherst melaporkan suatu proses pirolisis katalitik selektif yang untuk pertama kalinya mampu mengubah secara langsung selulosa kedalam senyawa yang dapat dipakai untuk membuat bensin (ChemSusChem, DOI: 10.1002/cssc.200800018)

Masalah yang terbesar dari konversi biomasa adalah yang dinamakan "recalcitrance" dari tanaman, yaitu ketidakmampuan secara cepat dan ekonomis untuk mengubah secara langsung karbohidrat kompleks dari tanaman menjadi bahan kimia berguna dan bahan bakar. Para peneliti mencari beberapa pendekatan baik fisis, kimia dan biologis untuk mengatasi masalah recalcitrance ini, termasuk teknik pirolisis baru yang dikembangkan oleh Huber dan mahasiswa pascasarjananya Torren R. Carlson dan Tushar P. Vispute.

Pirolisis adalah sebuah metode baku yang melibatkan pemanasan material padat organik, termasuk limbah pertanian dan industri pada suhu tinggi dan kedap oksigen. Proses ini akan mendekomposisi material tersebut menjadi campuran hidrokarbon cair.
Para peneliti di UMass mengidentifikasi kondisi − kondisi reaksi yang diperlukan untuk mengontrol pirolisis dari serbuk selulosa dan karbohidrat berbasis biomasa lainnya yang dicampur dengan serbuk halus katalis zeolite ZSM5. Selulosa pertama-tama akan terdekomposisi menjadi bahan organik volatil teroksigenasi yang secara selanjutnya memasuki pori-pori zeolit dan secara selektif mengalami serangkaian reaksi dekabonilasi, dehirasi, oligomerisasi dan reaksi lainnya. Huber mengatakan, proses mereka memakan waktu kurang dari 2 menit pada suhu 600°C didalam reaktor yang didesain khusus yang dapat menghailkan senyawa-senyawa aromatis berupa naphthalene, ethylbenzene, toluene, dan benzene; produk samping termasuk arang, H2O, CO, dan CO2.

Namun proses ini masih memiliki beberapa batasan saat ini. Sebagai contoh, para peneliti masih memakai selulosa murni sebagai bahan awal pirolisis. Tambahan lain, regulasi di US metapkan jika campuran bensin harus mengandung senyawa aromatis lebih kecil dari 25% termasuk kurang dari 1% untuk bensen.
Huber mengatakan, kalau menggunakan bahan biomasa alami harusnya akan menghasilkan produk yang sama dengan memakai selulosa murni ketika proses ini nantinya telah dioptimalisasi. Dia juga menyadari bahwa batasan peraturan dari bensin terhadap kandungan senyawa aromatis akan membatasi pemakaian produknya. Namun dia menjelaskan produk aromatis ini dapat dicampur dengan senyawa alkana dan komponen lain untuk membuat bensin standar, atau senyawa aromatis dapat di hirogenasi untuk menghasilkan alkana. Jika kami menggabungkan langkah hidrogenasi didalam proses ini maka secara prinsip akan dapat mengahsilkan bensin yang standar, ungkap Huber.
Metode pirolisis baru ini merupakan metode sederhana untuk mengolah biomasa dalam jumlah yang besar dengan waktu yang singkat, komentar John R. Regalbuto, direktur dari National Science Foundation, yang mensuport kegiatan Huber. Proses Huber ini yang mengubah secara langsung selulosa menjadi bensin aromatis merupakan teknologi terdepan saat ini yang telah mengubah paradigma terhadap pembuatan bensin alternatif terbarukan, kata Regalbuto lebih lanjut.
Disadur dari: http://pubs.acs.org/cen/news/86/i16/8616notw4.html
Gunakan fasilitas pencarian kata dibawah ini untuk mencari kata di chem-is-try.org

BIO-FUEL



July 14, 2009



Turunnya sediaan minyak bumi memberi stimulasi signifikan bagi proses pencarian sediaan energi alternatif secara global. Fenomena ini juga mendorong banyak negara menetapkan target tentang seberapa besar energi terbarukan menjadi bagian dari geliat pembangunannya.

Sebagai teladan, negara-negara Eropa menetapkan bahwa pada tahun 2020, 10% dari bahan bakar untuk transportasi akan berasal dari biofuel (bahan bakar nabati), sedangkan Amerika Serikat mempunyai target untuk menurunkan konsumsi minyak bumi sebesar 30% dan menggantinya dengan biofuel cair berbasis biomasa.

Target-target ini memberi gambaran meningkatnya proporsi penggunaan energi terbarukan yang berasal dari biofuel. Awalnya, transisi dari minyak bumi (energi/bahan bakar fosil) ke biofuel telah dipromosikan sebagai langkah untuk menghilangkan masalah-masalah terkait minimnya sediaan minyak bumi, gas rumah kaca, dan perubahan iklim. Namun demikian, baru-baru ini, berbagai negara semakin berhati-hati dalam melaksanakan pencapaian tujuan-tujuan awal tersebut. Mereka mulai mempertanyakan kaitan antara tatalaksana proses produksi biofuel dengan potensi dampak buruk yand ditimbulkannya.

Kemudian timbul pertanyaan, apa yang salah dan mengapa target-target pengalihan dari minyak bumi ke minyak nabati dipertanyakan sebelum kemungkinan potensinya diuji dengan baik? Apakah karena ada kesalahan dalam penentuan bahan bakunya? Atau kesalahan terletak pada strategi yang kurang tepat?

Evaluasi ulang secara kritis atas manfaat dan biaya pengembangan energi terbarukan – seperti dijelaskan di atas – didorong oleh fakta digunakannya bahan pangan sebagai bahan baku energi dan akibat sosial dan lingkungan yang ditimbulkan dari pilihan tersebut.

Pemilihan bahan pangan untuk energi ini telah melahirkan situasi yang kompleks, ditambah kenyataan bahwa untuk memproduksi bahan baku energi ini beberapa pemerintah di negara berkembang memberi peluang para pengusaha untuk mengkonversi hutan alam dan mengubahnya menjadi kebun energi berbasis pertanian. Indonesia mempunyai teladan yang terang benderang mengenai ini, berjuta hektar hutan telah dialokasikan dan dibuka untuk penanaman kelapa sawit bagi kepentingan makanan dan energi. Pemerintah daerah dan institusi terkait selalu menghadapi situasi sulit antara mengembangkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan atau mengubahnya menjadi perkebunan sawit.

Tema-tema terkait biofuel sepertinya lebih mengemuka dalam diskusi tentang keamanan energi dan keamanan pangan dibanding dipromosikan sebagai alternatif yang lebih baik dalam program penyelamatan lingkungan. Banyak pihak di tanah air mengasumsikan bahwa semua biofuel berasal dari sawit dan bahan pangan, sehingga ramai-ramai pula menolaknya. Padahal biofuel dapat dijadikan sebagai alternatif energi yang murah dan secara bersamaan dapat menyelamatkan lingkungan.

Situasi ini telah menghambat proses pencarian dan promosi biofuel yang menyediakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan signifikan bagi para pendukung, aktifis, dan praktisi biofuel, bahkan pada gilirannya masyarakat dan negara secara umum.

Beberapa negara, terutama anggota Uni Eropa, telah menimbang ulang tentang seberapa cepat sebaiknya mereka menggunakan biofuel sebagai pengganti minyak bumi. Penyebabnya? Karena sejuah ini belum tersedia informasi yang dapat menjawab tentang persoalan sosial dan lingkungan akibat dari pengembangan biofuel secara global. Negara-negara tersebut lantas meminta langkah-langkah verifikasi untuk memastikan bahwa biofuel yang mereka gunakan diproduksi secara berkelanjutan. Secara khusus, perhatian utama mereka difokuskan pada langkah-langkah:

* Seberapa besar penurunan emisi karbon dimungkinkan dari proses produksi etanol berbahan baku tanaman pangan (pertanian)
* Besaran energi yang dibutuhkan dalam proses menanam dan memanen tanaman dibanding dengan jumlah energi terbarukan yang dihasilkan
* Sejauh mana perubahan tata guna lahan – terkait tingkat produksi yang cukup untuk menghasilkan makanan dan energi (yang sebelumnya berupa lahan hutan) – dapat ditolerir tanpa menambah persoalan erosi dan polusi air.
* Secara global, seberapa tinggi harga makanan yang dapat ditolerir ketika bahan pangan tersebut juga digunakan untuk biofuel?, dan
* Jenis tanaman pangan apa saja yang akan hilang ketika para petani mengubah jenis tanamannya menjadi tanaman yang cocok untuk energi? Sejauh ini, penggunaan tanaman pangan untuk energi telah menyebabkan kekurangan pangan sekaligus menyebabkan harganya melambung tinggi. Pengaruh signifikan dari penggunaan pangan untuk energi di pasar internasional adalah tidak amannya sediaan pangan di tingkat lokal dan regional. Laporan Bank Dunia, yang diterbitkan akhir-akhir ini, menyebutkan bahwa tiga perempat dari total naiknya harga pangan di dunia disebabkan oleh penggunaan bahan pangan bagi produksi biofuel

Jika biofuel tetap dipertahankan sebagai bagian dari solusi global dalam proses penyediaan energi, terdapat kebutuhan untuk mengkaji ulang proses penetapan fokus perhatian dalam pengembangnya. Programnya perlu dilaksanakan secara lebih efektif untuk meningkatkan kesejahteraan serta mempertahankan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi baik di tingkat lokal maupun global.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memperluas material/bahan baku yang dapat digunakan untuk memproduksi energi terbarukan. Jika proses pencarian bahan baku ini hanya difokuskan pada tanaman pertanian, akan membuat kita lalai pada fakta bahwa semua tipe biomasa dapat digunakan sebagai bahan baku biofuel. Selain itu, memfokuskan diri pada jenis bahan baku tertentu akan membuat pilihan kita terbatas dan kurang dapat mencukupi kebutuhan yang ada. Situasi ini sebetulnya mudah diterima dan dicerna. Sebagai teladan, jika seluruh produksi jagung dan kedelai di Amerika Serikat dialihkan dari rantai makanan dan dibaktikan untuk memproduksi biofuel, hasilnya hanya akan menggantikan kebutuhan bensin sebesar 12% dan minyak solar sebesar 6% dari total kebutuhan.

Jelas terlihat bahwa memfokuskan diri pada penggunaan tanaman pertanian untuk memproduksi biofuel – seperti teladan di atas – sangatlah riskan, kita tidak akan dapat mencukupi kebutuhan energi seperti yang sekarang ini dipenuhi oleh minyak bumi. Dengan semakin naiknya kebutuhan bensin, solar, dan bahan bakar lainnya, skenario menggunakan bahan makanan sebagai pilihan dalam memproduksi biofuel menjadi kurang bijaksana. Dan karena pengembangan industri semakin meningkat seiring dengan meningkatnya populasi di Indonesia, kebutuhan akan sediaan pangan meningkat pula.

Sayangnya, fokus perhatian saat ini menunjukan kecenderungan pemilihan satu jenis biomass untuk diterapkan di berbagai kawasan di dunia. Sebagai teladan, saat ini rumput-rumputan menjadi tanaman pilihan dalam memproduksi biofuel.

Terdapat beberapa alasan kenapa rumput menjadi pilihan: rumput tumbuh dengan pesat dan mampu memproduksi biomasa dua kali lipat pertahunnya dibanding dengan jenis tanaman lain, selain itu hanya sedikit material minyak bumi yang diperlukan untuk menumbuhkan sebagian besar spesies rumput-rumputan, sehingga pengurangan emisi karbonnya lebih tinggi dibanding tanaman lain.

Namun, terdapat beberapa masalah signifikan dalam penggunaan rumput sebagai bahan baku biofuel. Banyak spesies rumput dikenal sebagai invasive species dan kemampuan mereka berkembangan dengan cepat menunjukkan kedigjayaannya sebagai tanaman yang cepat beradaptasi. Situasi ini membahayakan tanaman asli lokal, yang dapat tersingkir oleh rumput tersebut di habitat aslinya. Di sisi lain, persoalan meningkatnya konversi hutan tidak dapat dihilangkan hanya karena pertumbuhan rumput ini cepat. Fakta lain menunjukkan bahwa tidak seluruh area di dunia ini cocok untuk menjadi media tanam bagi rumput.

Kunci utama dari penyelesaian masalah ini adalah bahwa seluruh sumber potensi biomass yang dikelola secara berkelanjutan sebaiknya dapat didayagunakan bagi pengembangan energi terbarukan. Pertimbangan utama lainnya terletak pada ketersediaan biomass tersebut secara lokal.

Kita selayaknya mengubah haluan; dari menggunakan tanaman pangan atau rumput ke arah penggunaan biomass dari hutan dan/atau tanaman perdu yang proses pemanenannya tidak perlu melalui konversi hutan dan tidak menggangu rantai makanan.

Meskipun penggunaan kayu (biomasa hutan) untuk energi meningkat, para pengambil keputusan masih ragu-ragu untuk mengusulkan penggunaan biomasa hutan dan perdu untuk memproduksi biofuel. Penyebab utamanya terletak pada kenyataan bahwa lebih dari setengah jumlah penduduk di dunia masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar. Selain itu, FAO pada tahun 1998 melaporkan bahwa sediaan kayu bakar sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan riil di negara-negara tropis.

Dengan tersedianya teknologi lanjutan, biomasa hutan dapat diubah menjadi bahan bakar cair. Efisiensi produksinya pun tinggi, produksi metanol dari biomasa hutan bervariasi dari 45-57%. Prosentasi ini jauh melampaui prosentasi yang dapat dicapai oleh energi yang dihasilkan dari kayu bakar. Situasi ini memberi sinyal bahwa kita dapat mengganti kayu bakar yang tidak efisien dengan sistem yang dapat menyediakan energi lebih tinggi per ton biomasa yang tersedia. Keamanan energi dapat terjamin ketika produksi energi diubah dari sistem yang tidak efisien (efisiensi ~10%) ke sistem yang dapat memberi keamanan dan ketersediaan energi bagi para pihak yang tergantung pada kayu bakar.

Sebagian literature yang tersaji sampai sejauh ini banyak menulis tentang aspek negatif dari biofuel. Argumentasi ini syah adanya sesuai dengan konteks yang dikondisikan dalam proses penulisannya. Secara global, biofuel (etanol, metanol, biodiesel, dll) memberi isyarat menjanjikan sebagai pengganti minyak bumi untuk sektor transportasi dan mengurangi terjadinya perubahan iklim. Karena bahan bakar fosil yang digunakan untuk transportasi bertanggungjawab atas hampir seperempat emisi karbon, mengganti bahan bakar fosil dengan biofuel menjadi pilihan yang masuk akal dan menarik untuk dicapai. Brazil adalah negara teladan yang sukses dalam mengubah tebu menjadi etanol yang dialokasikan bagi penunjang sektor transportasi. Mengadopsi pendekatan Brazil – dengan penyempurnaan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi lokal negara masing-masing – dapat menjadi pilihan strategi ke depan.

Emisi karbon dari bahan bakar fosil meningkat lebih dari 20% di antara tahun 1990 dan 2004; dan proporsi bahan bakar fosil untuk menunjang kebutuhan energi campuran (energy mix) di dunia meningkat antara tahun 2000 dan 2004. Terdapat kebutuhan mendesak untuk menggeser pola produksi energi ke sebuah sistem yang dapat mengurangi emisi karbon dan secara bersamaan bertanggung jawab secara social.

Proses pencampuran bahan bakar fosil dengan bahan bakar nabati belum sepenuhnya sukses memberi tempat bagi penggunaan bahan bakar nabati secara signifikan, porsi bahan bakar nabatinya masih rendah. Di sisi lain, praktek ini juga belum berhasil dalam menurunkan emisi karbon dalam proses produksi maupun pemanfaatan biofuelnya.

Pengubahan tren – yang berbeda dengan praktek saat ini – dapat memberi rasa optimisme dalam pengembangan dan penggunaan biofuel, namun situasi ini hanya mungkin terjadi jika bahan bakunya berasal dari biomasa yang berdampak negatif kecil terhadap sosial dan lingkungan. Selain itu, perlu diingat bahwa biomass yang cocok di suatu daerah belum tentu sesuai ditanam di daerah lain. Setiap daerah mempunyai kekhasan tersendiri dalam proses penentuan jenis biomasa dan masalah-masalah yang terkait langsung dengannya.

Dalam makalah yang diterbitkan journal Renewable Energy, potensi peran biofuel (bio-methanol) yang diproduksi dari kayu dan dimaksudkan untuk mengurangi emisi karbon dipaparkan dan didemonstrasikan di Amerika Serikat bagian barat. Ketika bio-metanol digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil, total emisi karbon dapat dikurangi sebesar 22,8% sampai 80,7%. Penggunaan biometanol dari kayu (biomasa hutan) juga akan mengurangi potensi kebakaran hutan dan sekaligus dapat menjadi alternatif menarik sediaan listrik murah di pedesaan.

Akhir-akhir ini, pergolakan sosial terjadi di Meksiko karena jagung yang diproduksi di sana diekspor ke Amerika Serikat untuk kepentingan industri etanol. Hal ini terjadi karena harga jual jagung di Amerika Serikat lebih tinggi dibanding di Meksiko. Pada tahun 2007, Uni Eropa memutuskan untuk mengevaluasi kebijakan impor CPO (crude palm oil) dari Malaysia bagi karena dikhawatirkan terjadi kaitan yang erat antara peningkatan deforestasi dengan penyediaan bahan baku untuk industri biodiesel mereka. Keputusan ini juga didorong oleh perhatian atas sintasan (daya survival) masyarakat tempatan yang hidupnya tergantung kepada kepada sumber daya hutan secara langsung.

Dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam proses produksi biofuel akan menentukan peran bioful dalam sediaan energi di masa depan. Biofuel yang diproduksi dari bahan makanan penting atau menyebabkan kehancuran hutan kurang dapat diterima, baik oleh masyarakat tempatan maupun oleh masyarakat dunia.

Apakah Bioetanol Berdampak Negatif?


Bioetanol pada umumnya terbuat dari bahan dasar pati-patian seperti singkong, adapula yang berbahan dasar tetes tebu, biomasa dan lain lain sejenisnya.
Proses pembuatan bioetanol adalah dengan cara memfermentasikan bahan-bahan tersebut menjadi alkohol. Produk bioetanol yang memenuhi standar, hampir bisa dikatakan tidak mempunyai efek samping yang merugikan selama di pakai memenuhi kriteria.

Ditinjau dari:
1. Proses pembuatan etanol :
Pembuatan bioetanol melibatkan proses fermentasi yang menghasilkan etanol dan limbah organik. Selama proses pengolahan limbah memenuhi kriteria yang telah ditentukan, tidak ada dampak lingkungan yang akan tercemari.

2. Pengaruh terhadap pemakaian bioetanol pada mesin.
Saat ini telah dicoba di laboratorium, pemakaian bioetanol sampai dengan 10% (90% Premium + 10% bioetanol). Hasil dari uji laboratorium menyimpulkan kelayakan pemakaian etanol sampai dengan 10% pada berbagai mesin otomotif (mohon lihat tabel di bawah). Pemakaian bioetanol melebihi standard yang telah ditentukan dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap material mesin, seperti karet dan logam tertentu yang ada pada mesin.

3. Pengaruh produk bioetanol terhadap sosial dan ekonomi.
Bioetanol dapat dikonsumsi sebagai minuman keras, guna menghidari penyalahgunaan pemakaian harus dilakukan “denaturalisasi “ produk dengan cara memberi warna khusus kepada produk bioetanol.

Selain itu, untuk pemakaian sebagai bahan bakar disarankan sudah dicampur zat tertentu (misalnya bensin) untuk menghindari penyalahgunaan pemakaian.Dengan dipakainya bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati, diharapkan akan berdampak positif terhadap ekonomi rakyat. Dalam hal ini masyarakat dapat terlibat dalam proses pengadaan bahan baku, maupun memproduksi bioetanol dalam skala kecil.

Sumber : www.ristek.go.id

INFORMASI DAN REFERENSI BIO ETHANOL DI INDONESIA

Pemerintah Serius Kembangkan Bahan Bakar Nabati.

Antara Jatim.Com, Kamis, 06 Nov 2008 16:07:29

Surabaya – Kepala Sub Direktorat Pengolahan Migas, Dirjen Migas Kementrian ESDM, Mohammad Hidayat mengemukakan, pemerintah saat ini benar-benar fokus mengembangkan Bahan Bakar Nabati (BBN). “Sesuai Peraturan Mentri ESDM No.32 tahun 2008, Pengembangan Pemanfaatan BBN itu memang ada tahapan-tahapannya, katanya pada “workshop” Pemanfaatan energi alternatif di ITS Surabaya, Kamis.

Beliau mengemukakan bahwa rencana pengembangan penggunaan BBN itu, sudah dibicarakan dengan semua yang berkepentingan, yakni sejumlah produsen dan konsumen, seperti PT PLN dan sejumlah pengguna energi lainnya.
“Dari produsen sudah dibahas kemampuan mereka memproduksi BBN, konsumen juga kami tanya beberapa kebutuhannya, jadi kami bicarakan agar antara konsumen dengan produksi itu seimbang. “.

Pemerintah telah memiliki rencana untuk memproduksi BBN berupa bio ethanol hingga 4 juta liter per tahun pada tahun 2010. Salah satu upayanya adalah mendirikan pabrik di Lampung. “Rencana pengembangan bio ethanol ini lebih bertumpu untuk Kawasan Barat Indonesia, karena lebih pada pemikiran ketersedian bahan baku. Pengembangan ini diharapkan juga, bisa membuka lapangan kerja baru,”Masuki M. Astro mengemukakan penjelasannya.


Pemerintah akan Mengmbangkan Pohon Aren. (12-10-2006)

http://www.preasidensby.info/index.php/fokus/2006/10/12/1143.html

Pemerintah akan kembangkan penanaman pohon aren sebagai program nasional. Pohon aren selain menghasilkan gula juga dapat menghasilkan bahan bio ethanol sebagai pengganti bensin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyetujui mengembangkan pohon aren ini sebagai program nasional, Demikian dikatakan Meko Kesra Aburizal Bakrie, Kamis (12/10) siang, usai diterima Presiden SBY.
Pohon Aren ini, akan menjadi produk kelima penghasil bio energi, setelah pohon jarak, sawit, tebu, dan singkong, dan akan dikembangkan tahun depan di seluruh Indonesia, diharapkan dapat memperkerjakan sekitar tiga ratus ribu orang, dengan anggaran yang disiapkan pemerintah sebesa 60 miliar dari APBN, ujarnya.
Di Indonesia ada tujuh daerah yang akan menjadi pilot project, masing-masing Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Tenggara, kata Aburizal.


Sorgum, Bahan Baku Alternatif BIO ETHANOL.

Jum'at,Oktober,2008. httm://megachristina.blogspot.com/2008/10/sorgum-bahan-baku-alternatif- bioethanol.html

Nama sorgum kurang dikenal di kalangan masyarakat saat ini, para petani di jawa telah mengenalnya sebagai jagung cantel (centel) yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman pangan lain. Bahkan, di sebagian daerah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sorgum menjadi salah satu bahan pangan dengan kandungan protein, kalsium, zat besi dan vitamin B1 yang lebih tinggi dari pada beras. Selain bahan pangan dan pakan ternak, biji sorgum juga bisa menjadi bahan baku industri, bahkan Amerika Serikat, India dan China telah memanfaatkannya sebagai bahan baku bio ethanol.

Ternyata, sejak awal tahun 2000-an Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR BATAN) sudah melakukan penelitian perbaikan varietas dengan memperbaiki sifat argonomi dan kualitas biji dan hijauan sorgum Industri mutan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman dilakukan dengan meradiasi benih (seed) atau embrio (plantlet) dengan sinar Gamma bersumber daya Cobalt-60.

Galur mutan unggul diuji daya hasilnya pada daerah kering seperti di Kabupaten Gunung Kidul pada musim kemarau.

Sejumlah galur mutan tanaman sorgum dengan sifat-sifat argonomi unggul seperti tanah rebah, genjah, produksi tinggi, kualitas biji baik dan lebih tahan terhadap kekeringan-telah dihasilkan dan dikoreksi sebagai plasma nutfah di PATIR-BATAN.

Pemanfaatan Produk Bio Ethanol.

* Kadar 99,5% up, sebagai subsitusi Bahan Bakar Minyak jenis bensin.

* Kadar 70% s/d 90% sebagai industri kosmetik dan pharmasi seperti deterjen, desinfektan, subsitusi minyak tanah dan lain-lain.

* Pemanfaatan (utilisasi) ethanol dapat menunjang peluang tumbuhnya industri pendukung.

Investasi Kehutanan Mengalir Bagai Air

Selain investasi dari Korea, sektor kehutanan juga banjir investasi dari dalam negeri. Hal ini justru terjadi ketika kondisi ekonomi global yang sedang mengkerut.

Dirjen Bina Produksi Kehutanan Hadi Daryanto mengungkapkan, pada periode Januari-Mei 2009, investasi industri kehutanan mencapai Rp1,2 triliun terdiri dari 14 industri baru dan 4 industri yang melakukan perluasan (Lihat Tabel). Investasi tersebut mampu membuka lapangan pekerjaan bagi 6.509 orang tenaga kerja.

Investasi yang ditanam melesat jauh jika dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Saat itu, investasi industri kehutanan hanya terdiri dari dua unit industri masing-masing untuk pembangunan industri baru dan perluas industri dengan nilai investasi Rp21,2 miliar.

Hadi menyatakan, langkah-langkah Dephut untuk melakukan relaksasi peraturan yang terkait investasi membuat investasi bisa mengalir cepat. “Tak ada lagi aturan yang menghambat masuknya investasi ke sektor kehutanan,” katanya.

Awal tahun ini, Dephut memang meluncurkan kebijakan relaksasi peraturan kehutanan untuk mendorong investasi dan meningkatkan daya saing. Beberapa ketentuan yang dinilai memperlambat laju bisnis dihilangkan seperti dihilangkannya kewajiban mengajukan izin perluasan industri sepanjang bahan bakunya dari hutan tanaman atau dihilangkannya kewajiban mengajukan izin untuk yang melakukan inovasi produk. Menurut hadi, izin baru yang ditanam sepanjang 2009 adalah izin yang memanfaatkan kayu hutan tanaman. Langkah ini juga untuk mendorong pemanfaatkan kayu dari hutan tanaman sehingga menjadi insentif bagi mereka yang melakukan penanaman. “Jika selama ini kayu dari hutan tanaman harganya rendah karena pasarnya sempit, maka dengan kebijakan ini kayu dari hutan tanaman bisa punya pasar yang lebih luas,” katanya.

Hadi mendorong investor untuk berlomba-lomba menanam investasinya meski saat ini sedang krisis. Kondisi krisis, katanya justru menjadi saat yang tepat untuk investasi sebab industri akan siap ketika perekonomian pulih. Sugiharto

ENERGI BIOMASA PELET KAYU



Korea Bangun HTI untuk Energi Biomasa Kayu

Pebisnis Republik Korea rupanya telah benar-benar jatuh hati dengan bisnis kehutanan di Indonesia. Terbukti, investasi terus dikucurkan ke sektor ini. Terakhir, para pemilik modal asal negeri ginseng tersebut siap membangun industri pelet kayu dan memperluas investasi hutan tanaman yang sudah ada.

Pertengahan tahun 2006 lalu, para pebisnis raksasa Korea memang menegaskan minatnya untuk menanam modal di sektor kehutanan Indonesia. Sebut saja, Eagon Industrial, Elips Timber, Pohang Steelers Cooperation (Posco), Samsung dan Federasi Koperasi Kehutanan Nasional Korea rela antre untuk berinvestasi.

Rencana investasi yang diikat kesepakatan antara pemerintah Republik Indonesia dan Republik Korea itu memang tak semulus yang diperkirakan. Penyebabnya rimba birokrasi di Indonesia yang lebih lebat ketimbang rimba raya kehutanan yang sesungguhnya. Namun, hal itu tak membuat para pemilik modal Korea mundur.

Kini investasi lanjutan pun siap dikucurkan. Menteri Kehutanan MS Kaban mengungkapkan investor asal Korea siap menanam investasi tambahan untuk pembangunan hutan tanaman seluas 200.00 hektare. “Ini menambah luas investasi hutan tanaman oleh investor Korea,” kata Kaban mengungkapkan hasil kunjungannya ke Korea dan Jepang, awal Juni.

Kerjasama kehutanan Indonesia-Korea yang ditandatangani di Seoul, 2006 menyepakati pembangunan hutan tanaman dan aforestasi/reforestasi Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism) seluas 500.000 hektare. Perkembangannya sejauh ini, yang sudah ada tiga perusahaan yang mendapat izin definitif dan satu perusahaan yang mendapat izin prinsip untuk pembangunan hutan tanaman dengan luas mencapai 141.225 ha. Sementara delapan perusahaan lainnya sedang dalam proses mendapatkan izin dengan luas 357.817 ha. Sedangkan untuk pembangunan hutan dengan kerangka A/R CDM ada satu perusahaan dengan luas 13.000 hektare. Total jenderal luas hutan yang yang akan ditanam terkait kerjasama tersebut adalah 512.042 ha.

Energi Biomasa

Sementara investasi tambahan yang akan dikucurkan investor Korea adalah untuk keperluan industri energi berbasis biomasa kayu. Dirjen Bina Produksi Kehutanan Dephut, Hadi Daryanto menjelaskan, pada Forum Kehutanan Indonesia-Korea yang Kedua, 6 Maret 2009, kedua negara telah menandatangani kesepakatan untuk meningkatkan kerjasama pembangunan industri berbasis energi biomasa kayu. Menindaklanjuti kesepakatan tersebut, akan dibangun industri pembuatan pelet kayu yang akan menjadi subtitusi batubara sebagai bahan bakar. “Korea ingin ‘pertumbuhan hijau’ di negaranya. Jadi mereka ingin mengganti bahan bakar yang digunakan menjadi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Langkah pemerintah Korea yang menginginkan pertumbuhan hijau juga tak lepas dari kesadaran negara tersebut dalam meredam pemanasan global dan mencegah perubahan iklim. Saat ini Korea memanfaatkan 8 juta ton batubara untuk kepentingan energi. Jumlah tersebut, oleh pemerintah Korea ingin dikurangi setidaknya 5% dan disubtitusi dari bahan bakar yang ramah lingkungan dalam hal ini pelet kayu. “Apalagi pelet kayu lebih ringkas karena terbuat dari kayu yang dipadatkan sehingga mudah dalam proses pengapalan,” kata Hadi.

Industri pelet kayu yang saat ini sudah berdiri di Indonesia ada di Wonosobo, Jawa Tengah, dengan bendera PT Solar Park Indonesia berkapasitas 10 ton/jam. Industri yang juga milik investor Korea itu memanfaatkan limbah kayu hasil industri kayu gergajian Sengon.

Menurut Hadi, industri pelet kayu tidak bisa terus menerus mengandalkan limbah kayu sebagai bahan bakunya. Apalagi, kini limbah kayu sengon semakin sulit dicari seiring dengan tren ekspansi industri perkayuan yang memanfaatkan kayu sengon sebagai bahan baku pembuatan kayu lapis. “Industri kayu lapis relatif zero waste karena seluruh kayunya termanfaatkan,” kata Hadi.

Latar belakang itulah yang mendorong investor Korea untuk menambah luasan investasi hutan tanaman. Hutan tanaman yang dibangun dipersiapkan bisa memasok bahan baku bagi industri pelet kayu secara berkelanjutan. “Jenis yang ditanam bisa Sengon, Akasia atau jenis-jenis lain,” kata Hadi.

Dari 200.000 ha hutan tanaman yang dibangun seluas 20.000 ha merupakan investasi pemerintah Korea sebagai proyek percontohan sementara 180.000 ha sisanya merupakan investasi yang akan dilakukan oleh swasta murni.

Menurut Hadi, pemerintah Indonesia sudah mempersiapkan sejumlah lokasi untuk keperluan investasi tersebut diantara di Katingan, Kalimanatan Tengah. ‘Tapi tak menutup juga di lokasi-lokasi lain,” katanya.

Hadi mengungkapkan, industri pelet kayu memang baru bagi Indonesia dan Korea. Namun di sejumlah negara Amerika Utara dan Skandinavia, industri pelet kayu sudah berkembang sejak lama dan menjadi salah satu penopang keperluan energi.

Sementara itu Presiden Direktur Solar Park, Park See Woo yang dihubungi melalui telefon menjelaskan, pelet kayu terbukti mampu bersaing dengan batu bara sebagai bahan bakar. “Kalori yang dihasilkan pelet kayu mencapai 4.880 kilo kalori/kilogram. Setara dengan batubara,” kata dia.

Park menjelaskan, industri ini juga punya masa depan cerah karena harganya yang menarik mencapai 200-300 dolar AS/ton. “Investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan pabrik sekitar 6 juta dolar AS,” ujar Park. Sugiharto

ENERGI BIOMASSA

Menurut Manurung, setiap tahun terdapat sekitar 160 miliar ton biomassa dari areal pertanian dan 80 miliar ton dari areal perhutanan. Sebagai contoh, ampas tebu, sekam padi, batang dan tongkol jagung, pelepah dan tandan sawit, serta beragam limbah lainnya. Padahal jika diolah, 240 miliar ton biomassa itu setara dengan 60 ton BBM.

Di industri teh, limbah biomassa yang diproduksi setiap tahun mencapai 5,8 miliar ton atau setara dengan 2,32 ton BBM. Sementara tahun ini diperkirakan ada sekitar 17,7 juta ton biomassa yang menjadi limbah penggilingan padi.

Angka tersebut setara dengan 7,07 juta ton BBM. Jika teknologi pengolahan biomassa itu dikembangkan, bisa dihitung betapa besarnya penghematan yang bisa dilakukan. Sebagai contoh, pengeringan 124.500 ton teh membutuhkan biaya Rp 177 miliar.

Beberapa jenis bioenergi yang bisa dihasilkan dari biomassa pertanian antara lain bio-oil, biogas, briket arang, ataupun pembangkit listrik berbahan bakar sekam, papar Handaka. Bio-oil merupakan bahan bakar yang bisa digunakan untuk sektor transportasi. Salah satu jenis bio-oil yang mulai banyak digunakan di negara-negara maju adalah biodiesel.

Bi-oil dihasilkan melalui proses pemanasan biomassa pada suhu 450-600 derajat Celsius secara cepat. Proses yang disebut dengan pirolisa itu akan menghasilkan gas, cair, dan padatan dalam bentuk arang. Bio-oil juga dihasilkan dengan proses pirolisa pada sekam yang selama ini terbuang.

Sementara itu biogas diproduksi dari limbah manusia, hewan atau bahan pertanian lain. Briket arang bisa dibuat dari limbah kayu, tempurung kelapa, sisa bahan kelapa sawit, sekam, dan limbah pertanian lainnya.

Pasokan energi juga bisa didapat dari sumber terbarukan nonbio-energi. Selama ini cahaya matahari yang memancar hampir sepanjang tahun, energi angin, energi ombak belum banyak dimanfaatkan untuk pengolahan produk pertanian. Padahal hanya dengan teknologi sederhana namun tepat guna sumber energi tersebut bisa memberi banyak manfaat.

Sebagai contoh teknologi pengering terowongan berganda yang dikembangkan oleh dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir Rudy Wahyudi. Rudy memanfaatkan energi matahari yang dipadukan dengan energi biomassa untuk mengeringkan produk pertanian dan perikanan.

Hasilnya selain tidak memerlukan BBM, kualitas produk yang dikeringkan pun jauh lebih baik. Lama pengeringan pun bisa dipercepat menjadi 4-6 kali lebih cepat.

Pengembangan teknologi tepat guna yang memanfaatkan bio-energi dan energi terbarukan lainnya memberi banyak harapan bagi petani. Selain mengatasi persoalan limbah pertanian dengan konsep zero waste, pasokan energi untuk pengolahan pun lebih mudah dengan biaya jauh lebih murah. Bukan hanya itu penggunaan BBM pun menjadi jauh berkurang bahkan bisa ditiadakan yang berarti juga mengurangi emisi pencemar.

Yang diperlukan saat ini adalah keinginan kuat dari pemerintah untuk mewujudkannya. Tanpa dukungan politik yang jelas, pengembangan teknologi seperti apapun sangat sulit untuk diterapkan.

Jadi, yang harus dibenahi adalah visi pemerintah tentang paradigma pengembangan teknologi di negeri yang kaya sumber daya alam ini.

ENERGI HIJAU; POTENSI PENGEMBANGAN ENERGI NON FOSIL

Gusmailina & Han Roliadi




Ringkasan

Energi hijau adalah energi bersih yang tidak mencemari atau menambah polutan ke atmosfer. Energi ini bisa berasal dari air, hydrothermal, hydropower, geothermal, angin, matahari, sampah, biomass, biofuel, hingga gelombang. Di masa datang, semua energi hijau harus menjadi kebijakan utama pengembangan dan pemanfaatan energi. Jadi, sebaiknya renewable energy ini harus dikedepankan, bukan dijadikan alternatif.
Dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, pemerintah telah menerbitkan Peraturan presiden republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan bakar minyak. Konsumsi energi terus meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Terbatasnya sumber energi fosil yang menyebabkan perlunya pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi yang akhir-akhir ini lebih akrab disebut pengembangan energi hijau atau energi non-fosil yang berasal dari alam dan dapat diperbaharui. Apabila dikelola dengan baik, sumber daya tersebut tidak akan habis. Terkait dengan pemanfaatan BBN, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006 mengenai penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar lain. Presiden telah menginstruksikan kepada sejumlah menteri dan instansi pemerintah terkait (daerah atau pusat) untuk mengambil langkah – langkah untuk melaksanakan percepatan penyediaan dan pemanfaatan BBN (biofuel) sebagai bahan bakar lain.
Tulisan ini menguraikan sekelumit tentang energi hijau serta potensi pengembangannya, antara lain energi biomassa, energi biofuel, energi biodiesel, energi biogas, dan energi dari sampah dengan konsep waste to energy.

*) Peneliti Utama pada Pusat Litbang Hasil Hutan
**) makalah penunjang pada Asean Seminar

PENDAHULUAN

Saat ini paradigma dan pola pandang terhadap penyediaan energi harus berubah arah. Awalnya memburu energi (energy hunting) dari energi yang tersedia, berubah menjadi ke pola upaya membudidayakan energi (energy farming) dengan hasil berupa energi nabati, atau dengan kata lain dari BBM (bahan bakar minyak) menuju BBN (bahan bakar nabati/energi hijau). Diketahui bahwa energi yang bersumber dari fosil termasuk bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui, juga tidak ramah lingkungan sehingga dikenal sebagai pemicu polusi udara. Sementara penggunaan sumber energi nabati (energi hijau) merupakan pilihan yang paling tepat, mengingat kondisi lahan dan iklim yang mendukung serta sebagian besar penduduknya bertumpu pada sektor pertanian, perkebunan atau kehutanan. Pengembangan energi hijau disamping dalam rangka diversifikasi energi untuk mengatasi krisis energi juga untuk menunjang upaya diversifikasi usahatani, agro industri, meningkatkan pendapatan petani, serta sebagai rosot CO2 dalam mitigasi pemanasan global.

Konsumsi BBM yang mencapai 1,3 juta/barel tidak seimbang dengan produksinya yang nilainya sekitar 1 juta/barel sehingga terdapat defisit yang harus dipenuhi melalui impor. Menurut data ESDM (2006) cadangan minyak Indonesia hanya tersisa sekitar 9 milliar barel. Apabila terus dikonsumsi tanpa ditemukannya cadangan minyak baru, diperkirakan cadangan minyak ini akan habis dalam dua dekade mendatang. Sekitar 8-10 tahun, Indonesia akan kehabisan sumber energi minyak bumi. Sebagai contoh, produksi minyak bumi Indonesia yang telah mencapai puncaknya pada tahun 1977 yaitu sebesar 1.7 juta barel per hari terus menurun hingga tinggal 1.125 juta barel per hari tahun 2004. Di sisi lain konsumsi minyak bumi terus meningkat dan tercatat 0.95 juta barel per hari tahun 2000, menjadi 1.05 juta barel per hari tahun 2003 dan sedikit menurun menjadi 1.04 juta barel per hari tahun 2004. Sebentar lagi Indonesia akan mengalami defisit energi dengan volume defisit yang akan semakin meningkat. Kenaikan harga BBM yang terjadi pada saat ini cenderung akan berulang lagi pada beberapa waktu ke depan, mengingat cadangan dan sumber minyak bumi dunia juga semakin menurun. Penurunan sumber minyak bumi dunia akan berdampak pada peningkatan harga minyak dunia, yang secara langsung maupun tidak langsung juga akan meningkatkan harga BBM di dalam negeri.

Sesungguhnya Indonesia mempunyai potensi energi terbarukan yang luar biasa besarnya. Pemerintah (cq Dep. Energi dan Sumber Daya Mineral) telah mendorong pemanfaatan dan pengembangan energi terbarukan melalui berbagai kebijakan yang tertuang dalam UU, PP maupun KePMen ESDM. Namun kebijakan tersebut belum semuanya dapat diimplementasikan dan bahkan belum merangsang investor untuk memanfaatkan usaha di bidang energi terbarukan ini.

Sumber Energi terbarukan, yang sering disebut sebagai energi alternatif antara lain, berupa air (hidro, mini/mikro hidro), panas bumi, biomasa (limbah organik), sinar matahari (surya) dan angin. Selain sumber energi air yang telah dimanfaatkan untuk listrik hingga 14,2% (dari potensi 458,75 MW) dalam bentuk mini/mikro hidro, pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan lain masih sangat rendah. Pemafaatan sumber energi air (hidro) baru 5,1% dari potensi setara 75,67 GW listrik, panas bumi 4,1% dari potensi 19,66 GW, biomasa 0,6% dari potensi 49,81 GW serta matahari dan angin masih di bawah permil dari potensinya. Rendahnya pemanfaatan sumber energi terbarukan ini sesungguhnya merupakan suatu ironi, mengingat beberapa tekonologi pemanfaatannya sudah dikuasai (misalnya teknologi pembangkit listrik dari energi terbarukan).

Beberapa jenis energi terbarukan memang sangat tergantung waktu dan keadaan (matahari, angin atau air), sehingga sulit untuk digunakan secara berkelanjutan. Biomasa merupakan sumber energi terbarukan dengan potensi yang sangat besar dan tidak akan pernah habis. Potensi biomasa dari pertanian, perkebunan dan kehutanan saja tercatat dapat dihasilkan dari limbah produksi seperti; padi, jagung, ketela, bagas tebu, kelapa, kelapa sawit dan limbah pemanenan hutan, limbah pengolahan kayu dan lain sebagainya. Sebagai contoh dari industri kelapa sawit saja dihasilkan limbah biomasa sebesar 1.075 juta m3 pertahun, yang bila diolah akan menghasilkan energi setara dengan 516.000 ton LPG atau 559 juta liter solar atau 666,5 juta liter minyak tanah atau 5.052,5 MW listrik.

Dalam kaitan dengan potensi limbah biomasa, penelitian dan pengembangan perlu membuat terobosan untuk menjadikan sumber energi terbarukan segera dapat dimanfaatkan secara nyata. Terobosan tersebut harus menyangkut aspek kebijakan riset, pengembangan dan penerapan teknologi pemanfaatan energi terbarukan yang dapat diaplikasikan dengan mudah serta menghasilkan energi yang murah.

POTENSI ENERGI NON FOSIL (ENERGI HIJAU) DI INDONESIA

Beberapa pendapat mengemukakan bahwa energi hijau adalah energi bersih yang tidak mencemari atau menambah polutan ke atmosfer. Energi ini bisa berasal dari air, hydrothermal, hydropower, geothermal, angin, matahari, sampah, biomass, biofuel, hingga gelombang. Salah satu yang termasuk energi hijau adalah biofuel. Di masa datang, semua energi hijau harus menjadi kebijakan utama pengembangan dan pemanfaatan energi. Jadi, sebaiknya renewable energy ini harus dikedepankan, bukan dijadikan alternatif.

Dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, pemerintah telah menerbitkan Peraturan presiden republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan bakar minyak. Konsumsi energi terus meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Terbatasnya sumber energi fosil yang menyebabkan perlunya pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi yang akhir-akhir ini lebih akrab disebut pengembangan energi hijau atau energi non-fosil yang berasal dari alam dan dapat diperbaharui. Apabila dikelola dengan baik, sumber daya tersebut tidak akan habis. Terkait dengan pemanfaatan BBN, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006 mengenai penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar lain. Presiden telah menginstruksikan kepada sejumlah menteri dan instansi pemerintah terkait (daerah atau pusat) untuk mengambil langkah – langkah untuk melaksanakan percepatan penyediaan dan pemanfaatan BBN (biofuel) sebagai bahan bakar lain.

Pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia dapat digolongkan dalam tiga kategori. Yang pertama adalah energi yang sudah dikembangkan secara komersial, seperti biomassa, panas bumi dan tenaga air. Yang kedua adalah energi yang sudah dikembangkan tetapi masih secara terbatas, yaitu energi surya dan energi angin. Dan yang terakhir adalah energi yang sudah dikembangkan, tetapi baru saja sampai pada tahap penelitian, seperti energi pasang surut.

Energi Biomassa

Energi ini berasal dari bahan organik dan sangat beragam jenisnya. Sumber energi biomassa dapat berasal dari tanaman perkebunan atau pertanian, hutan peternakan atau bahkan sampah. Energi ini mampu menghasilkan panas, membuat bahan bakar dan membangkitkan listrik. Teknologi pemanfaatan energi biomassa yang telah dikembangkan terdiri dari pembakaran langsung (briket arang dari limbah kayu, tempurung kelapa, sisa bahan kelapa sawit, sekam, dan limbah pertanian lainnya) dan konversi biomassa menjadi bahan bakar..Hasilnya dapat berupa gas biomassa, bio ethanol, bio diesel dan bahan bakar cair (BTL).

Menurut Manurung, setiap tahun terdapat sekitar 160 miliar ton biomassa dari areal pertanian dan 80 miliar ton dari areal perhutanan. Sebagai contoh, ampas tebu, sekam padi, batang dan tongkol jagung, pelepah dan tandan sawit, serta beragam limbah lainnya. Padahal jika diolah, 240 miliar ton biomassa itu setara dengan 60 ton BBM. Dari sektor perkebunan seperti industri teh, limbah biomassa yang diproduksi setiap tahun mencapai 5,8 miliar ton atau setara dengan 2,32 ton BBM. Sementara tahun ini diperkirakan ada sekitar 17,7 juta ton biomassa yang menjadi limbah penggilingan padi. Angka tersebut setara dengan 7,07 juta ton BBM, belum lagi yang tercatat dari sektor perhutanan. Jika teknologi pengolahan biomassa itu dikembangkan, bisa dihitung betapa besarnya penghematan yang bisa dilakukan. Sebagai contoh, pengeringan 124.500 ton teh membutuhkan biaya Rp 177miliar (Manurung, 2007).
Adapun secara keseluruhan, potensi biomassa Indonesia yang bisa digunakan untuk substitusi energi mencapai 49,81 GW. Akan tetapi yang bisa dihasilkan baru sekitar 0,3 GW saja (Sumaryono,2007). ''Dari limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan serta industri berbasis kayu, yang bisa dijadikan biomassa mencapai 120 juta ton. Sehingga apabila sudah dimanfaatkan secara optimal, tahun 2010 secara signifikan biomassa akan berdampak terhdap upaya subtitusi minyak bumi hingga 10 persen, selain itu juga perbaikan ekonomi di pedesaan. Beberapa tahun belakangan ini meski masih terbatas, biomasaa telah mulai digunakan di sejumlah daerah, seperti Banjarmasin, beberapa wilayah di Sumatera serta NTB, khususnya untuk keperluan pembangkit listrik. Energi listik itu sendiri dihasilkan dari pembakaran limbah pada tungku pemanas.

Peran serta Perhutani dalam mengembangkan energi biomassa

Untuk membantu meminimalkan dampak kenaikan BBM bagi masyarakat, Perhutani yang wilayahnya berada atau dikitari desa-desa di sekitar hutan, umumnya termasuk desa miskin, sehingga berupaya melakukan antisipasi untuk mengamankan sumberdaya hutannya. Karena bagi masyarakat sekitar hutan sudah menjadi kebiasaan menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi untuk memasak dan sudah terbiasa pula masyarakat mengambil dari hutan. Dahulu kayu bakar tidak terlalu bernilai ekonomi tetapi sekarang dengan tingginya harga BBM yang dibarengi dengan kelangkaan minyak tanah, masyarakat sangat merasakan bahwa pentingnya hutan untuk mendukung kehidupannya mereka dalam penyediaan energi. Awal tahun 2008 peran serta Perhutani dalam menyumbang bahan bakar biomassa kepada masyarakat secara gratis sebesar 21 juta ton terdiri dari limbah kegiatan tebangan, penjarangan, trubusan 3.188.150,7 ton dan limbah pabrik 17.885.000 ton. Masyarakat mendapat bio massa untuk kayu bakar berupa dahan dan ranting-ranting pohon pada saat tebangan dan hasil trubusan. Kayu dari penjarangan pertama bahkan diserahkan kepada masyarakat. Tunggak sisa tebangan bukan hanya untuk kayu bakar tetapi juga dimanfaatkan untuk industri kerajinan rakyat yang bernilai tinggi. Bio massa yang lebih besar diperoleh di sektor industri yaitu dari daun kayu putih dan limbah industri kayu gergajian. Sebesar 127.896 ton masih dimiliki Perhutani sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, yang berasal dari limbah pabrik pengolahan kayu, gondorukem, minyak kayu putih, seedlack dan ylang-ylang (anonimus, 2008)

Energi Bio Ethanol

Energi Bioethanol digunakan sebagai substitusi sebagian atau keseluruhan bahan bakar bensin. Bioethanol dapat dihasilkan dari tumbuhan yang mengandung hidrokarbon tinggi. Kelebihan energi bioethanol ini adalah mampu meningkatkan angka oktan pada bahan bakar sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja mesin modern. Keuntungan yang lain adalah rendahnya emisi gas berbahaya hasil pembakaran dari pada gas buang hasil pembakaran bensin. Bioetanal cukup potensial dikembangkan di Indonesia mengingat potensi lahan yang cukup luas untuk pengembangan bahan baku pembuatan etanol.

Bioetanol merupakan etanol atau bahan alkohol hasil proses fermentasi. Bahan ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang disebut gasohol yang merupakan paduan dari gasoline dan alkohol. Gasohol merupakan campuran 90 persen bensin dan 10 persen bioetanol yang dikenal sebagai Gasohol BE 10. Hasil campuran bensin dan bioetanol menghasilkan emisi karbonmonoksida dan hidrokarbon yang lebih minim dibanding bensin premium yang beredar saat ini, juga dapat meningkatkan angka oktan sehingga menghasilkan jenis bensin baru yang lebih baik dan lebih ramah lingkungan. Perkembangan bioetanol ini juga akan dapat menghemat devisa dari pengurangan impor premium. Disamping itu pengembangan bio ethanol dapat menggerakan sektor agribisnis dan ketenagakerjaan serta memberikan nilai tambah produksi (Manurung, 2007).

Pengembangan Bioetanol sudah banyak dilakukan di Indonesia. Kira-kira 23 tahun lalu, sebelum PT. Pertamina (Persero) menjual Biosolar B-5 dan BioPremium E-5, usaha untuk mengembangkan BBN di Indonesia sudah pernah dilakukan. Sesuai Kebijakan Umum Bidang Energi (KUBE) sejak tahun 1981, kebijakan utama pengembangan energi nasional telah diarahkan pada empat hal, yaitu intensifikasi, diversifikasi, konservasi, dan indeksasi. Namun, di dalam KUBE tahun – tahun berikutnya, kebijakan indeksasi dihilangkan dan tiga kebijakan yang lain dan tetap dipertahankan dengan pergeseran nilai prioritas. Salah satu wujud diversifikasi energi yang menonjol saat itu adalah mulai dirintisnya penelitian dan pengembangan salah satu BBN, yaitu bioetanol. Pada tahun 1983 penelitian bioetanol dari singkong mulai dirintis oleh Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) di Desa Sulusuban, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Saat itu produksi singkong di daerah – daerah transmigrasi, seperti di Lampung Tangah dan Tulang Bawang, melimpah. Namun, tak ada pabrik yang mengolah singkong menjadi produk jadi, misalnya tapioka. Sehingga B2TP mengembangkan riset bioetanol berbahan dasar singkong. Riset berlangsung secara intensif dan ekstensif. Proyek Bioetanol telah tuntas diuji dan dikaji bersama dengan produsen kendaraan bermotor.
Salah satu pohon sumber energi hijau yang potensial yang akan dikembangkan di Indonesia adalah (Callophylum inophyllum), energi yang dihasilkan adalah biofuel yang tidak akan pernah habis selama tersedia tanah, air, dan matahari. Pohon ini di KPH (Kepala Pemangkuan Hutan) Kedu Selatan sedang dikembangkan penanamannya, selain sebagai tanaman mencegah abrasi, pohon ini juga dikembangkan sebagai ring III untuk pencegah abrasi pantai. Ring I adalah Bakau, Ring II adalah Ketapang Laut, dan Ring III adalah Nyamplung (Dwi Witjahjono, 2008). Nyamplung (Callophylum inophyllum) tumbuh baik di daerah pantai, berbuah sepanjang tahun dan pertama kali berbuah pada umur 7 tahun dengan produksi 25-50 kg biji basah per pohon. Tinggi pohon mencapai 20 meter dengan diameter 20-35 cm pada usia 28 tahun. Pengembangan tanaman nyamplung di KPH Kedu Selatan dilaksanakan di wilayah seluas 86,9 hektare dengan jumlah pohon mencapai 10.814 pohon dan membentang sepanjang Pantai Ketawang. Sementara itu, Kepala Bidang Analisis dan Penyajian Informasi Departemen Kehutanan Bintoro mengatakan, seluas 350 hektare lahan tepi pantai di Kabupaten Cilacap dijadikan area hutan tanaman nyamplung, cemara laut (Terminalia catapa) dan ketapang laut (Casuaria equisetifolia). Budi daya nyamplung, saat ini disebut sebagai primadona karena mampu menghasilkan biofuel dari buah keringnya sebagai bahan bakar minyak (BBM) alternatif. Sehingga Dephut lebih mengedepankan partisipasi masyarakat dalam mengelola potensi hutan. Oleh sebab itu Dephut telah menyediakan sekitar 3 juta bibit untuk alokasi penanaman di 3.000 hektare lahan. Sementara untuk Cilacap dialokasikan 148.222 batang pohon nyamplung.
Selama mau menanam, membudidayakan, serta mengolahnya menjadi produk bermanfaat seperti bahan bakar. Tanaman nyamplung bisa menjadi primadona sumber energi alternatif

Energi Bio Diesel

Biodiesel adalah bahan kimia yang dipakai sebagai chemical additive untuk minyak diesel atau sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan karena berasal dari minyak tumbuh-tumbuhan. Bio diesel dihasilkan dari minyak nabati, lemak hewani, ganggang atau bahkan minyak goreng bekas sebagai bahan bakar kendaraan. Namun bila diproduksi dalam skala besar akan meningkatkan beban lingkungan karena budidaya monokultur atau perkebunan dengan satu jenis tanaman dapat mengurangi produktivitas lahan serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Kelemahan penggunaan biodiesel atau ethanol murni sebagai bahan bakar kendaraan adalah perlu modifikasi pada mesin karena ethanol dan biodiesel antara lain akan bereaksi dengan karet dan plastik konvensional. Rencana pengambangan biodiesel di indonesia merupakan salah satu program aksi dari Deklarasi Bersama tentang Gerakan Nasional Penganggulangan Kemiskinan dan krisis BBM melalui rehabilitasi dan reboisasi 10 juta Ha Lahan kritis dengan tanaman penghasil Energi. Deklarasi berdasarkan pertimbangan : (1) Jumlah penduduk miskin semakin meningkat (36,1 juta), terdiri dari 11,5 juta penduduk kota dan 24,6 juta jiwa penduduk desa; (2) lahan kritis yang semakin meningkat (21,9 juta ha) yang terdiri dari 15,3 juta ha kritis dan 6,6 juta ha potensial kritis; (3) Subsidi BBM mencapai 60 juta kiloliter, terdiri dari premium 20 juta kiloliter, solar 22 juta kiloliter, minyak tanah 12 juta kiloliter, dan minyak bakar 6 juta kiloliter.

Total bahan bakar yang dapat diganti oleh biodiesel jarak pagar berjumlah 40 juta kiloliter/tahun, yaitu solar, minyak tanah, dan minyak bakar. Dengan taksiran rendah (1 ha = 3 ton biji, 3 ton biji = 1 ton minyak) maka lahan jarak pagar yang diperlukan adalah 40 juta ha. Untuk memenuhi Peraturan Presiden No. 5/2006, yaitu 20 tahun mendatang (2025) harus dipenuhi 5% dari kebutuhan pada tahun tersebut. Dengan perhitungan kenaikan konsumi BBM rata-rata 6%/tahun maka total kebutuhan solar pada tahun 2025 adalah 128,3 juta kiloliter. Target pemerintah untuk bisa memasok sebesar 5% dari kebutuhan tersebut adalah 5% dari 128,3 juta kilooliter atau 6,41 juta kiloliter. Untuk memenuhi kebutuhan minyak sebesar itu, diperlukan total areal seluas 6,41 juta ha atau perluasan arealyang diperlukan setiap tahun selama 20 tahun adalah sebesar 321.000 ha.

Menurut Immanuel Sutarto, Presiden Direktur PT Eterindo, di Indonesia diperkirakan pemakai solar per tahun 44 juta kiloliter. Menurut data dari Direktorat Jenderal Energi dan Sumber Daya Mineral, untuk industri sekitar 6 juta kiloliter solar. Bila memakai 20 persen biodiesel maka diperlukan1.200.000 kiloliter/tahun. Untuk kebutuhan PLN sekitar 12 juta kiloliter solar, bila memakai 20 persen biodiesel maka dibutuhkan 2.400.000 kiloliter/tahun. Sedangkan sektor transportasi saja membutuhkan 26 juta kiloliter solar dan jika memakai 2 persen biodiesel maka dibutuhkan 520.000 kiloliter.Total kebutuhan biodiesel secara nasional mencapai 4.120.000 kiloliter/tahun. Sementara kemampuan produksi biodiesel pada 2006 baru 110.000 kiloliter/tahun. Pada 2007 ditingkatkan kapasitasnya sampai 200.000 kiloliter/tahun. Sementara produsen lain pada 2007 akan mulai beroperasi. Sehingga diperkirakan kapasitas mencapai sekitar 400.000 kiloliter/tahun. Permintaan eskpor cukup banyak, mencapai jutaan ton/tahun, baik ke negara-negara Asia, terutama Singapura, Jepang dan negara Eropa lainnya. Untuk ekspor, tidak ada tata niaga khusus (bebas), selama mengikuti persyaratan kualitas dan harga. Sedangkan untuk lokal, masih menunggu aturan tata niaga dari pemerintah. Sehingga pemerintah segera mengeluarkan tata niaga biodiesel agar jelas sistem penjualan dan distribusi kepada masyarakat.

Energi Biogas

Salah satu sumber energi alternatif adalah biogas. Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion. Proses ini merupakan peluang besar untuk menghasilkan energi alternatif sehingga akan mengurangi dampak penggunaan bahan bakar fosil (Agung Pambudi, 2008). Biogas adalah campuran gas-gas dari biomasa yang dihasilkan dan mendayagunakan bakteri melalui proses fermentasi bahan organik dalam keadaan anaerob (tanpa oksigen). Dalam keadaan hangat, basah dan kurang udara maka bakteri akan mencerna bahan organik dan akan menghasilkan gas methan yang mudah.terbakar. Hasil fermentasi bahan organik akan menghasilkan gas yang berupa gas methan (CH4) 51 – 70%, carbondioksida (CO2) 26 – 45%, carbonmonoksida (CO) 0,1%, nitrogen (N) 0,5 – 3%, Oksigen (O2) 0,1% dan sedikit hidrogensulfida(H2S).Nilai kalori gas methan mencapai 8.900 kkl/m3. Perkembangan proses Anaerobik digestion telah berhasil pada banyak aplikasi. Proses ini memiliki kemampuan untuk mengolah sampah/limbah yang keberadaanya melimpah dan tidak bermanfaat menjadi produk yang lebih bernilai. Aplikasi anaerobik digestion telah berhasil pada pengolahan limbah industri, limbah pertanian limbah peternakan dan municipal solid waste (MSW). Pusat Litbang Hasil hutan sejak th 1985 sampai 1990 telah merintis pengembangan energi biogas dengan bahan baku MSW (municipal Solid waste) dengan teknologi SSF (Solid state fermentation), kegiatan ini telah mencapai pilot plan dengan masukan bahan 1 ton per hari.

Energi dari sampah (Waste to Energy)

di Indonesia bercampurnya plastik (non organik) dengan sampah organik merupakan kendala utama dalam pengolahan sampah menjadi listrik, sehingga menghambat proses digester anaerobik, mengingat sampah plastik sangat sulit diolah oleh jasad renik. Bercampurnya plastik juga mempersulit penanganan dalam pirolisis, gasifikasi dan incinerator karena sampah plastik mempunyai temperatur terurai yang berbeda dibandingkan bahan organik yang lain. Penggunaan temperatur operasi yang keliru dapat menyebabkan polusi yang berbahaya. Bercampurnya sampah organik kering dan basah juga menyebabkan nilai kalor dari sampah menjadi turun. Sampah di Indonesia diperkirakan hanya mempunyai nilai kalor 1.000-2000 kkal/kg dan jauh dibawah LHV biomass yang 15-20 MJ/kg. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa nilai kalor sampah di Indonesia mencapai adalah 3.000-4.000 kkal/kg. Menurut prediksi harga listrik dari sampah dapat dijual ke PLN adalah Rp 400/kWh. Teknologi yang dijadikan rujukan oleh Indonesia adalah teknologi dari China. Pada bulan Desember 1998, China (Shanghai Pudong City Heat Energy) membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTsa) dengan kapasitas 35-40 MWh. Dengan nilai investasi 670 juta yuan (87 juta $) dapat mengolah sampah 1.100-1.200 ton sampah/hari. Hitungan kasar ini adalah 1 ton sampah perhari menghasilkan listrik 31.8 kWh dengan biaya investasi 2.5 juta $ (Rp 24 ) per MW ha tau 79 ribu $ perton sampah. Dengan demikian sampah akan menjadi salah satu sumberdaya berharga untuk bisnis masa depan. Selain teknologi, aspek ke-ekonomian, tentu peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat-sangat dibutuhkan untuk menciptakan kota/desa yang bersih.

Di Indonesia PT PLN bersama Pemerintah Kabupaten Bandung membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS), merupakan pilot project pertama di Indonesia, dimana sampah sebagai bahan baku pembangkit energi (Widiono, 2007), pembangunan PLTS di Tempat Pembuangan Sampah Akhir Babakan, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung merupakan kepedulian PLN dalam menangani sampah di Bandung, merupakan karya ITB dengan mengaplikasikan teknologi pengelolaan dan pengolahan sampah menjadi sumber energi dengan konsep WTE (Waste to Energy). Menurut Kepala Pusat Rekayasa Industri ITB, Dr. Ir. Ari Darmawan Pasek, dengan kondisi TPA Babakan yang mengelola sampah 200 ton per hari, maka PLTS akan mampu membangkitkan listrik berkapasitas antara 300 - 500 kilowatt yang diperkirakan akan mencukupi kebutuhan daya listrik bagi sekitar 500 rumah serta kebutuhan operasional PLTS sehari-hari secara berkelanjutan. Selanjutnya dikemukan juga bahwa prakiraan perhitungan pengelolalaan sampah, potensi listrik sampah Bandung memiliki nilai kalori 1.500-2.500 kkcal/kg dengan efisiensi pembangkit 25 persen. Energi listrik yang dihasilkan per ton sampah per hari sebesar 18-30 kw. Manfaat lain dari pengolahan sampah ini akan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 120.000 ton CO2 /tahun dan residu sisa pengolahan akan bernilai 2-3 persen.

Program pemerintah 2000 desa mandiri energi

Desa Mandiri Energi adalah desa yang dapat menyediakan energi bagi desa itu sendiri, sehingga bisa membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan dan menciptakan kegiatan-kegiatan produktif. Desa Mandiri Energi juga merupakan desa yang menjadi percontohan penggunaan energi terbarukan. Terdiri dari dua jenis sumber energi yaitu: desa yang dikembangkan dari energi terbarukan non nabati, seperti energi mikrohidro, tenaga surya dan atau biogas, dan desa yang menggunakan energi nabati seperti biofuel. Menurut Mentri ESDM, target pemerintah terbentuknya 2000 Desa Mandiri Energi sampai akhir masa Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pada 2009 (Yusgiantoro, 2007). Hal ini didasari oleh pidato Presiden pada saat rapat terbatas agar jumlah Desa Mandiri Energi ditingkatkan dari 140 desa pd th 2007, menjadi 200 desa pada th 2008 hingga pada akhir masa kabinet ditingkatkan menjadi 2.000 desa, dengan rincian masing-masing 1.000 desa untuk setiap jenisnya. Mentri ESDM juga menekankan bahwa Desa Mandiri Energi bukan desa tertinggal, melainkan desa yang diharapkan bisa mandiri secara energi, dan menjual kelebihan energinya ke pihak lain.

Tujuan pengembangan Desa Mandiri Energi antara lain: untuk mengurangi angka kemiskinan dan membuka lapangan kerja, selain juga untuk substitusi bahan bakar minyak. Saat ini Indonesia mempunyai 100 Desa Mandiri Energi, binaan Departemen ESDM, Pertanian, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Negara Daerah Tertinggal, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Departemen Kelautan antara lain : 81 kabupaten berbahan bakar non-nabati dan 40 Desa Mandiri Energi yang menggunakan bahan bakar nabati.

PENUTUP

Penelitian dan pengembangan perlu membuat terobosan untuk menjadikan sumber energi hijau dan terbarukan segera dapat dimanfaatkan secara nyata. Terobosan tersebut harus menyangkut aspek kebijakan riset, pengembangan dan penerapan teknologi pemanfaatan energi terbarukan yang dapat diaplikasikan dengan mudah dan menghasilkan energi yang murah. Bahan bakar nabati berbeda dengan bahan bakar dari fosil, BBN dengan sifatnya yang mudah diperbaharui, tidak mencemari lingkungan, kontinuitasnya terjamin, dan bisa menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat, membuat BBN sangat relevan dan mendesak untuk segera direalisasikan pengembangannya. Oleh karena itu pengembangan Bahan Bakar Nabati sangat penting.

Pengembangan teknologi tepat guna untuk menghasilkan energi hijau dan energi terbarukan lainnya mutlak perlu diaplikasikan karena selain memberi banyak harapan bagi petani, juga mengatasi persoalan limbah organik dengan konsep zero waste serta pasokan energi untuk pengolahan pun lebih mudah dengan biaya jauh lebih murah. Sehingga penggunaan BBM pun menjadi jauh berkurang bahkan bisa ditiadakan dan akhirnya akan mengurangi emisi. Selain itu yang diperlukan saat ini adalah keinginan kuat dari pemerintah untuk mewujudkannya. Tanpa dukungan politik yang jelas, pengembangan teknologi seperti apapun sangat sulit untuk diterapkan. Jadi, yang harus dibenahi adalah visi pemerintah tentang paradigma pengembangan teknologi di negeri yang kaya sumber daya alam ini, sekaligus prediksi terhadap dampak lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2007. PLTS : Pembangkit Listrik Tenaga Sampah rekayasa ITB siap operasi tahun 2008. Majalah Profesi. Forum dinamika sain dan teknologi. Kamis 23 Agustus 2007.

Anonimus. 2008. Dampak kenaikan harga BBM, Perhutani bantu masyarakat melalui energi biomassa. Humas Perum Perhutani. Warta Perhutani. Senin, 09 Juni 2008
Daugherty E.C, 2001, Biomass Energy Systems Efficiency:Analyzed through a Life Cycle Assessment, Lund Univesity.

Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, 2004, Potensi energi terbaharukan di Indonesia, Jakarta

Gatot Irawan & Khomarul Hidayat. 2004. Prospek Biodiesel Cerah
Instruksi Presiden, Instruksi Preiden No 1 tahun 2006 tertanggal 25 januari 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuels), sebagai energi alternative, Jakarta.

Presiden Republik Indonesia, 2006, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional, Jakarta

Purnomo Yusgiantoro. 2007. Pemerintah Targetkan 2.000 Desa Mandiri Energi. Pidato Presiden. Antara News. 14/02/07 20:31

Pambudi. A. 2008. Pemanfaatan Biogas Sebagai Energi Alternatif. Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Tim Nasional Pengembangan BBN, 2007, BBN, Bahan Bakar Alternatif dari Tumbuhan Sebagai Pengganti Minyak Bumi

Wahono Sumaryono .Deputi bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT

Widodo Eddie. 2007. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Mulai Dibangun. Wawancara eksklusif Tempo interaktif dengan Direktur Utama PLN Eddie Widiono. Jum'at, 28 September 2007.